TUGAS ILMU
GIZI
TENTANG
MASALAH GIZI DI INDONESIA
D
I
S
U
S
U
N
OLEH
ELVA
NAVIYANA
KATA PENGANTAR
Puji
syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya
sehingga kami dapat menyusun tugas ini tepat pada waktunya.
Penulisan
makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Gizi. Penulisan makalah
dengan tema “Masalah Gizi di Indonesia dan Masalah Gizi pada Bayi”. Selain itu,
tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memberikan penjelasan bagaimana
masalah gizi di Indonesia terutama pada bayi.
Dalam
penyelesaian makalah ini penulis banyak mengalami kesulitan terutama disebabkan
kurangnya ilmu pengetahuan. Namun, berkat kerja keras dan usaha, akhirnya
makalah ini dapat terselesaikan. Tidak lupa kami juga mengucapkan terima kasih
kepada kedua orang tua yang telah memberikan dorongan baik moril maupun
materil, Bapak Sutanto, SKM, MKm dan Rifki Kurniawan, S.Gz. Selaku dosen Gizi
sekaligus pembimbing yang telah membantu dan mendorong semangat kami dalam
menyelesaikan tugas ini.
Akhir kata kami semua berharap semoga tugas ini dapat bermanfaat dan berguna, serta dapat memenuhi persyaratan demi kelengkapan tugas ini.
Akhir kata kami semua berharap semoga tugas ini dapat bermanfaat dan berguna, serta dapat memenuhi persyaratan demi kelengkapan tugas ini.
ii
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………… i
KATA PENGANTAR………………………………………………………………… ii
DAFTAR ISI ……………………….…………………………………………………. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Masalah ………………………………………………………. 1
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Gizi…………………………………………………………………… 2
2.2 Masalah
Gizi Utama di Indonesia…………………………………………….. 2
2.2.1 Anemia Gizi
Besi……………………………………………………………… 2
2.2.2 Kurang Vitamin A……………………………………………………………. 5
2.2.3 Gangguan Akibat Kekurangan ………………………………………………. 7
2.2.4 Kurang Energi Protein……………………..…………………………………. 9
2.2.5 Obesitas……………………………………………………………………….. 13
BAB III ISI
3.1 Prinsip
Gizi Seimbang pada Bayi………………………………….………….. 15
3.2 Macam-Macam
Makanan Bayi……………………………………………….. 15
3.2.1 ASI…………………………………………………………………………….. 15
3.2.2 MPASI………………………………………………………………………… 18
3.3 Cara
Pengelolaan Makanan Bayi………………………………………………. 19
3.4 Faktor-Faktor
yang Mempengaruhi Pemberian Makanan pada Bayi................. 22
3.5 Pengaruh
Status Gizi Seimbang Bagi Bayi......................................................... 23
3.6 Dampak
Kelebihan dan Kekurangan Gizi pada Bayi......................................... 23
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan………………………………………………………………….……… 24
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………. 25
iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Sebagai negara yang sedang berkembang
dan sedang membangun, bangsa Indonesia masih memiliki beberapa ketertinggalan
dan kekurangan jika dibandingkan negara lain yang sudah lebih maju. Di bidang
kesehatan, bangsa Indonesia masih harus berjuang memerangi berbagai macam
penyakit infeksi dan kurang gizi yang saling berinteraksi satu sama lain
menjadikan tingkat kesehatan masyarakat Indonesia tidak kunjung meningkat
secara signifikan. Di sebagian besar daerah Indonesia, penyakit infeksi
seperti, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), diare, dan campak masih
merupakan penyakit utama dan masih menjadi penyebab utama kematian.
Tingginya angka kesakitan dan kematian
Ibu dan Anak Balita di Indonesia sangat berkaitan dengan buruknya status gizi.
Ironisnya, dibeberapa daerah lain atau pada sekelompok masyarakat Indonesia
yang lain terutama di kota-kota besar, masalah kesehatan masyarakat utama
justru dipicu dengan adanya kelebihan gizi; meledaknya kejadian obesitas di
beberapa daerah di Indonesia akan mendatangkan masalah baru yang mempunyai
konsekuensi-konsekuensi serius bagi pembangunan bangsa Indonesia khususnya di
bidang kesehatan. Pendek kata, masih tingginya prevalensi kurang gizi di
beberapa daerah dan meningkatnya prevalensi obesitas yang dramatis di beberapa daerah
yang lain akan menambah beban yang lebih komplek dan harus dibayar mahal oleh
bangsa Indonesia dalam upaya pembangunan bidang kesehatan, sumberdaya manusia
dan ekonomi.
1
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
2.1
Definisi Gizi
Gizi adalah suatu
proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui
proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan metabolism dan pengeluaran
zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan
fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi, (Supriadi dkk, 2001).
2.2
Masalah Gizi Utama di Indonesia
Sampai saat ini di
Indonesia ada lima masalah gizi utama yaitu Kurang Energi Protein (KEP), Anemia
Gizi Besi (AGB), Kurang Vitamin A (KVA) , Gangguan Akibat Kekurangan Iodium
(GAKI) dan Obesitas. Energi dan protein merupakan zat gizi makro, sedangkan zat
besi, vitamin A dan Iodium merupakan zat gizi mikro. Pada tulisan ini akan
dibahas masalah gizi mikro yang utama terjadi di Indonesia. Zat gizi mikro
merupakan zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah sedikit, namun
esensial untuk tubuh. Kekurangan salah satu zat ini akan mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan anak dan dampaknya tidak akan dapat diperbaiki
pada tahapan kehidupan selanjutnya.
2.2.1
Anemia Gizi Besi (AGB)
Anemia sangat umum
dijumpai di Indonesia, prevalensinya masih sangat tinggi pada kelompok-kelompok
tertentu. Anemia didefinisikan sebagai suatu keadaan kadar hemoglobin didalam
darah lebih rendah dari nilai normal untuk kelompok orang yang bersangkutan.
Menurut WHO (1996), anak umur 6 bulan – 5 tahun dikatakan anemia jika mempunyai
kadar hemoglobin darah kurang 110 g/L.
2
a.
Prevalensi Anemia Gizi
Besi
Organisasi
kesehatan dunia (WHO) memperkirakan sekitar 40% dari penduduk di dunia (lebih
dari 2 milyar jiwa) terkena anemia. Kelompok yang paling tinggi prevalensinya
adalah wanita hamil dan orang tua yaitu sekitar 50%, bayi dan anak sampai umur
2 tahun 48%, anak sekolah 40%, wanita tidak hamil 35%, adolescent 30-55%, dan
anak prasekolah 25%. Prevalensi anemia di negara-negara berkembang sekitar
empat kali lebih besar dibandingkan dengan negara-negara maju. Diperkirakan
prevalensi anemia untuk anak sekolah di negara berkembang dan maju adalah 53%
dan 9%, anak prasekolah 42% dan 17% (Allen and Gillespie, 2001). Prevalensi AGB
di Indonesia pada satu tahun pertama kehidupan masih diatas 60%, walaupun
angkanya menurun sejalan dengan bertambahnya usia anak, namun prevalensinya
masih tinggi yaitu 32.1 % pada anak usia 48-59 bulan. Menurut WHO anemia
dikatakan menjadi masalah kesehatan masyarakat jika prevalensi di suatu negara
yaitu < 15% adalah rendah, 15-40% adalah sedang dan >40% adalah tinggi
(Direktorat Gizi Mayarakat, 2003)
b.
Penyebab Anemia Gizi
Besi
Umur
sel darah merah sekitar 120 hari, sumsum tulang akan mengganti sel darah merah
yang tua dengan membuat sel darah merah yang baru. Kemampuan membuat sel darah
merah baru sama cepatnya dengan banyaknya sel darah merah tua yang hilang,
sehingga jumlah sel darah merah selalu dipertahankan cukup banyak didalam
darah. Penyebab AGB utama yang terjadi terutama di negara-negara yang sedang
berkembang adalah penyerapan zat besi. Sumber terbaik dari besi adalah makanan
yang berasal dari daging, ikan dan telur, namun konsumsinya rendah pada
masyarakat yang berpenghasilan rendah. Jumlah zat besi yang diserap dari
makanan hewani adalah sekitar 25%, sedangkanjumlah besi yang diserap dari
biji-bijian dan kacang-kacangan hanya 2-5%. Faktor risiko terjadi anemia adalah
pada bayi yang lahir premature atau kekurangan zat besi pada masa kehamilan.
Bayi yang lahir dengan berat badan yang rendah mempunyai simpanan zat besi yang
rendah, yang akan habis pada umur 2-3 bulan.Sehingga diperlukan suplementasi
zat besi ketika mereka berumur 2 bulan.
3
Suatu
studi perbandingan yang dilakukan di Honduras dan Swedia pada bayi umur 6 bulan
yang diberi ASI eksklusif menunjukkan bahwa konsentrasi ferritin (yang
menunjukkan cadangan zat besi) dari bayi-bayi di Honduras setengah dari bayi di
Swedia. Hal ini menggambarkan rendahnya akumulasi dari zat besi ketika masih
didalam kandungan. Pada anak-anak, AGB diperberat keadaannya oleh infestasi
cacing tambang. Cacing tambang menempel pada dinding usus dan memakan darah.
Akibat gigitannya sebagian darah hilang dan dikeluarkan dari badan bersama
tinja. Setiap hari diperkirakan satu ekor cacing tambang memakan 0.03 – 0.15 ml
darah, jika didalam tubuh terdapat 100 ekor cacing tambang, akan menyababkan
kehilangan darah sekitar 3 – 15 ml per hari.
c.
Konsekuensi dari
Anemia Gizi Besi
Gejala
dari kekurangan zat besi pada individu tidak spesifik. Kekurangan zat besi pada
tingkat sedang biasanya didiagnosis dari penilaian di laboratorium. Kekurangan
zat besi pada tingkat berat sama dengan jenis anemia lainnya yaitu mudah capek,
nafsu makan menurun, atau terlihat pucat. Konsekuensi dari AGB adalah
menurunnya produktifitas pada orang dewasa dan pada anak-anak terhadap
perkembangan mentalnya. Ulasan dari berbagai hasil penelitian menunjukkan anak
balita yang menderita AGB mempunyai skor mental dan motor pada uji Bayley lebih
rendah dari anak yang tidak menderita AGB. Setelah disuplementasi dengan zat
besi terdapat kenaikan skor mental dan motor yang cukup berarti. Pada anak
prasekolah (usia 3-6 tahun) yang menderita AGB menyebabkan pemusatan perhatian
dan proses belajar rendah. Setelah disuplementasi dengan zat besi anak yang AGB
pemusatan perhatian dan proses belajarnya menjadi lebih baik Penelitian yang
dilakukan pada binatang menunjukkan bahwa AGB mempengaruhi isi dan distribusi
besi otak dan menyebabkan perubahan prilaku. Walaupun penelitian pada binatang
dapat misleading, namun berbagai penelitian secara konsisten menunjukkan bayi
yang menderita AGB terlambat perkembangan psikomotornya, terutama pada
kemampuan berbicara dan keseimbangan tubuh. Pada bayi-bayi ini suplementasi zat
besi tidak cukup untuk mengembalikan pengaruh negatif akibat kekurangan zat
besi, walaupun kadar hematologi darah sudah kembali normal.
4
2.2.2
Kurang Vitamin A (KVA)
Vitamin
A dibutuhkan untuk memelihara fungsi penglihatan, pertumbuhan, reproduksi,
perkembangan tulang, kekebalan, mengurangi kesakitan dan kematian anak.
Tanda-tanda klinis dari kekurangan vitamin A adalah rabun senja, bintik Bitot,
dan xeropthalmia.
a.
Prevalensi kurang
vitamin A
Prevalensi
dari defisiensi klinis diperkirakan dari rabun senja, bintik Bitot, dan
xeropthalmia. Prevalensi klinis KVA di Asia cukup rendah, berkisar antara 0.5%
di Srilangka sampai 4.6% di Bangladesh pada anak-anak (Allen and Gillespie,
2001). Prevalensi lebih dari 1% dianggap menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Di Indonesia prevalensi kekurangan vitamin A pada tahun 1970 adalah berkisar
antara 2-7%, turun menjadi 0.33% pada tahun 1992, dan dinyatakan bebas masalah
xeropthalmia, namun tetap perlu waspada karena 50% balita masih menunjukkan
kadar vitamin dalam serum <20mcg/dl (Direktorat Gizi Mayarakat, 2003).
b.
Penyebab kurang
vitamin A Faktor-faktor penyebab kekurangan vitamin A yang umum ditemukan pada
anakanak diilustrasikan dalam Tabel. Faktor penyebab dibagi atas tiga yaitu
langsung, tidak langsung dan akar masalah (Unicef 1990 dalam ACC/SCN, 1994).
Penyebab utama kekurangan vitamin A adalah konsumsi makanan hewani yang banyak
mengandung retinol masih rendah. Minyak ikan, hati dan ginjal, susu merupakan
sumber vitamin A. Sedangkan sayur-sayuran yang berwarna hijau dan buah-buahan
berwarna kuning banyak mengandung beta karoten yang merupakan provitamin A.
Betakaroten yang berasal dari buah-buahan dan umbi yang berwarna kuning,
seperti ubi jalar merah lebih mudah diserap dibandingkan dari sayur-sayuran. Vitamin
A merupakan salah satu vitamin A yang larut dalam lemak, konsumsi lemak yang
rendah dapat menyebabkan vitamin A dalam makanan susah untuk diserap. Konsumsi
sayur-sayuran dengan cara ditumis dapat meningkatkan absorbsi dari vitamin A
yang terdapat pada sayur-sayuran. Air susu ibu (ASI) merupakan sumber utama
vitamin A pada bayi. Tabel. Faktor-faktor penyebab kekurangan vitamin A pada
anak-anak. Faktor-faktor Penyebab Penyebab langsung - Vitamin A dan lemak
rendah dalam konsumsi - Kejadian diare dan campak tinggi - Berat bayi lahir
rendah - Kekurangan vitamin A pada ibu –
5
Meneteki
dalam waktu singkat dan pemeberian ASI tidak eksklusif - MP ASI tidak cukup dan
cara pemberian makan tidak benar Penyebab tidak langsung - Infrastruktur
kesehatan yang tidak memadai - Produksi makanan sumber vitamin A rendah - Tidak
ada tanaman pekarangan - Pemasaran/distribusi/penyimpanan makanan sumber vit. A
buruk - Pola pengasuhan anak tidak benar - Distribusi makanan, kesehatan dalam
keluarga salah - Pendidikan dan kesadaran ibu Akar masalah - Kemiskinan -
Sedikit atau tidak ada tanah yang produktif - Pengaruh musim pada penyakit dan
ketersediaan makanan - Pengaruh lingkungan lainnya - Pengaruh social budaya
lainnya - Status wanita - Pengaruh system politik Gejala klinis KVA dari bayi
yang mendapat ASI jarang ditemukan, namun status vitamin A yang tidak baik pada
ibu merupakan faktor risiko mulai terjadinya KVA pada bayi. Pemberian makanan
pendamping ASI (MPASI) yang tidak cukup atau cara pemberian makanan yang salah
dapat menyebabkan kekurangan vitamin A. Penyebab tidak langsung dari kekurangan
vitamin A berpengaruh terhadap kejadian penyebab langsung. Contohnya produksi
makanan vitamin A yang rendah menyebabkan ketersediaan makanan tersebut juga
rendah sehingga konsumsi makanan sumber vitamin A menjadi rendah. Akar masalah
dari kekurangan vitamin A mempengaruhi penyebab langsung dan tidak langsung,
misalnya kemiskinan membuat keluarga tidak dapat membeli makanan sumber vitamin
A dan tidak dapat memproduksi makanan sumber vitamin A. Konsekuensi kurang
vitamin A Berbagai penelitian menunjukan kekurangan vitamin A meningkatkan
angka kesakitan dan kematian pada bayi, anak, dan ibu hamil; mempengaruhi
pertumbuhan pada anak; dan berpengaruh terhadap kejadian anemia dengan cara mempengaruhi
transpor zat besi dan sintesis hemoglobin. Beberapa hasil penelitian yang
berhubungan dengan kekurangan vitamin A dan hubungannya dengan hasil dari
suplementasi yang diberikan adalah:
1.
Mortalitas (angka
kematian). Suplementasi vitamin A mencegah perkembangan terjadinya Xeropthalmia
dan konsekuensinya juga untuk mencegah kematian pada individu yang rentan.
2.
Morbiditas (angka
kesakitan). Hasil-hasil penelitian menunjukkan pengaruh suplementasi vitamin A
pada morbiditas pada populasi yang kekurangan vitamin A secara sub klinis.
6
Hasil meta analisis menunjukkan suplementasi
vitamin A dosis tinggi mengurangi angka kesakitan diare dan campak 23% untuk
bayi dan anak umur 6 bulan sampai 5 tahun Diare yang parah dapat dikurangi
dengan suplementasi vitamin A dosis rendah pada anak-anak gizi buruk 3.
Kekebalan tubuh. Bukti-bukti menunjukkan suplementasi vitamin A pada anak-anak
dengan nilai serum vitamin A yang rendah dapat meningkatkan kekebalan tubuh,
termasuk respon terhadap vaksinasi.
2.2.3.
Gangguan Akibat Kekurangan
Iodium (GAKI)
Gangguan akibat kurang
iodium adalah kekurangan gizi paling tua. Di China, antara tahun 2838 – 2698
sebelum masehi gondok endemik sudah diketahui. GAKI mempunyai bermacam-macam
efek yang serius pada kesehatan seperti gondok, kretin, gangguan perkembangan
kognitif dan pertumbuhan yang tidak dapat diperbaiki, kematian bayi, berat bayi
lahir rendah, dan kematian pada saat lahir.
a.
Prevalensi Gangguan
Akibat Kekurangan Iodium WHO, UNICEF dan International Coordinating Committee
on Iodine Deficiency Disorders (ICCIDD) mengklasifikasikan dari 191 negara,
68.1 % dengan masalah GAKI, 10.5% sudah dapat mengatasi masalah GAKI dan
sisanya tidak diketahui masalah besarnya masalah GAKI (Allen and Gillespie,
2001). Prevalensi secara nasional pada tahun 1980 sekitar 30% menurun menjadi
9.8% pada tahun 1998. Namun prevalensi pada propinsi-propinsi tertentu masih
cukup tinggi, misalnya di NTT 38.1%, Maluku 33.3%, Sulawesi Tenggara 24.9%, dan
Sumatra Barat 20.5%. Propinsi NTT dan Maluku dikategorikan mempunyai masalah
GAKI yang berat, Sulawesi Tenggara dan Sumatra Barat dikategorikan mempunyai
masalah GAKI sedang, sedangkan propinsi-propinsi yang lain mempunyai masalah
GAKI ringan atau tidak mempunyai masalah GAKI (Direktorat Gizi Mayarakat,
2003).
b.
Penyebab Gangguan
Akibat Kekurangan Iodium Penyebab utama GAKI adalah karena air, makanan yang
berasal dari tumbuhtumbuhan dan binatang pada daerah tertentu sedikit
mengandung Iodium. Iodium yang terdapat pada tanah tersebut tercuci oleh
gletsier, banjir atau hujan. Kekurangan Iodiumdapat disebabkan oleh banjir,
sebagai contoh di sepanjang sungai Gangga di Banglades dan India.
7
Penyebab lain
dari kekurangan Iodium adalah banyak makanan yang dikonsumsi di negara-negara
berkembang mengandung zat goitrogenik yaitu suatu zat yang menghambat
penyerapan Iodium oleh tiroid. Contohnya adalah zat goitrogenik yang terdapat
didalam ubi kayu, untuk menghilangkan zat tersebut ubi kayu harus direndam
dahulu di dalam air. Di Sarawak Malaysia, konsumsi ubi kayu berhubungan dengan
kejadian gondok dan kretin. Beberapa zat gizi diindikasikan berhubungan dengan
kekurangan Iodium yaitu Selenium dan Besi. Selenium merupakan komponen yang
penting untuk enzim yang merubah tiroksin (T3) menjadi triiodotironin (T4),
sehingga kekurangan Selenium dan Iodium dapat menyebabkan gondok. Kekurangan
besi dapat menyebabkan kerusakanmetabolisme hormon tiroid, sehingga orang yang
menderita gondok dan anemia kurang responsif jika diberikan Iodium.
c.
Konsekuensi dari
Gangguan Akibat Kekurangan Iodium Beberapa konsekuensi dari kekurangan Iodium
adalah kretin, gondok, kerusakan perkembangan kognitif yang tidak dapat
diperbaiki, meningkatkan angka kesakitan dan kematian.
1)
Kretin adalah hasil
dari kekurangan Iodium selama kehamilan, yang mempengaruhi fungsi tiroid janin.
Kerusakan otak janin diperkirakan terjadi ketika kekurangan Iodium pada
trisemester I kehamilan. Ciri-ciri kretin karena kerusakan saraf adalah
kemampuan kognitif yang rendah, tuli, dan ganguan bicara.
2)
Gondok merupakan
pembesaran kelenjar tiroid pada leher. Gondok biasanya tidak menyakitkan, namun
adanya gondok menunjukkan bahwa sedang terjadi kerusakanlain dari kekurangan
Iodium.
3)
Kerusakan fungsi
kognitif. Kekurangan Iodium merupakan penyebab nomor satu kerusakan otak dan
kemunduran mental yang sebenarnya dapat dicegah. Masalahnya berkisar dari
perubahan saraf sampai kerusakan fungsi kognitf.
Hasil dari meta analisis dari 18
penelitian yang meliputi 2214 subjek menunjukkan ratarata kognitif dan
psikomotor anak-anak yang kekurangan Iodium lebih redah 13.5 IQ poin
dibandingkan anak yang normal. Masalahnya diperberat dengan lingkungan yang
terdiri dari orang-orang tidak cerdas, apatis, tidak ada motivasi sebagai
akibat dari kekurangan Iodium. 4) Meningkatkan kesakitan dan kematian.
8
2.2.4 Kurang Energi
Protein (KEP)
·
Adalah penyakit gizi
akibat defisiensi energi dalam jangka waktu yang cukup lama.
·
Prevalensi tinggi
terjadi pada balita, ibu hamil (bumil) dan ibu menyusui/meneteki (buteki)
·
Pada derajat ringan
pertumbuhan kurang, tetapi kelainan biokimiawi dan gejala klinis (marginal
malnutrition)
·
Derajat berat adalah
tipe kwashiorkor dan tipe marasmus atau tiep marasmik-kwashiorkor
·
Terdapat gangguan
pertumbuhan, muncul gejala klinis dan kelainan biokimiawi yang khas.
a.
Penyebab
·
Masukan makanan atau kuantitas
dan kualitas rendah
·
Gangguan sistem
pencernaan atau penyerapan makanan
·
Pengetahuan yang
kurang tentang gizi
·
Konsep klasik diet
cukup energi tetapi kurang pprotein menyebabkan kwashiorkor
·
Diet kurang energi
walaupun zat gizi esensial seimbang menyebabkan marasmus
·
Kwashiorkor terjadi
pada hygiene yang buruk , yang terjadi pada penduduk desa yang mempunyai
kebiasaan memberikan makanan tambahan tepung dan tidak cukup mendapatkan ASI
·
Terjadi karena
kemiskinan sehingga timul malnutrisi dan infeksi
b.
Gejala klinis KEP
ringan
·
Pertumbuhan mengurang
atau berhenti
·
BB berkurang, terhenti
bahkan turun
·
Ukuran lingkar lengan
menurun
·
Maturasi tulang
terlambat
·
Rasio berat terhadap
tinggi normal atau menurun
·
Tebal lipat kulit
normal atau menurun
·
Aktivitas dan
perhatian kurang
·
Kelainan kulit dan
rambut jarang ditemukan
9
c.
Pembagian
1.
Marasmus
2.
Kwashiorkor
3.
Marasmus-kwashiorkor
1)
Marasmus
Marasmus adalah
kekurangan energi pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai
sehingga anak menjadi “kurus” dan “emosional”. Sering terjadi pada bayi yang
tidak cukup mendapatkan ASI serta tidak diberi makanan penggantinya, atau
terjadi pada bayi yang sering diare.
a.
Penyebab
·
Ketidakseimbangan
konsumsi zat gizi atau kalori didalam makanan
·
Kebiasaan makanan yang
tidak layak
·
Penyakit-penyakit
infeksi saluran pencernaan
b.
Tanda dan gejala
·
Wajah seperti orang
tua, terlihat sangat kurus
·
Mata besar dan dalam,
sinar mata sayu
·
Mental cengeng
·
Feces lunak atau diare
·
Rambut hitam, tidak
mudah dicabut
·
Jaringan lemak sedikit
atau bahkan tidak ada, lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit menghilang
·
Kulit keriput, dingin,
kering dan mengendur
·
Torax atau sela iga
cekung
·
Atrofi otot, tulang
terlihat jelas
·
Tekanan darah lebih
rendah dari usia sebayanya
·
Frekuensi nafas
berkurang
·
Kadar Hb berkurang
·
Disertai tanda-tanda
kekurangan vitamin
10
2)
Kwashiorkor
Kwashiokor
adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein dan sering timbul pada
usia 1-3 tahun karena pada usia ini kebutuhan protein tinggi.Meski penyebab
utama kwashiorkor adalah kekurangan protein, tetapi karena bahan makanan yang
dikonsumsi kurang menggandung nutrient lain serta konsumsi daerah setempat yang
berlainan, akan terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di berbagai negara.
a.
Penyebab
·
Kekurangan protein
dalam makanan
·
Gangguan penyerapan
protein
·
Kehilangan protein
secara tidak normal
·
Infeksi kronis
·
Perdarahan hebat
b.
Tanda dan gejala
·
Wajah seperti bulan
“moon face”
·
Pertumbuhan terganggu
·
Sinar mata sayu
·
Lemas-lethargi
·
Perubahan mental
(sering menangis, pada stadium lanjut menjadi apatis)
·
Rambut merah, jarang,
mudah dicabut
·
Jaringan lemak masih
ada
·
Perubahan warna kulit
(terdapat titik merah kemudian menghitam, kulit tidak keriput)
·
Iga normal-tertutup
oedema
·
Atrofi otot
·
Anoreksia
·
Diare
·
Pembesaran hati
·
Anemia
·
Sering terjadi acites
·
Oedema
11
c.
Kwashiorkor-marasmik
memperlihatkan gejala campuran antara marasmus dan kwashiorkor
a.
Penatalaksanaan Secara
umum
·
Ruangan cukup hangat
dan bersih
·
Posisi tubuh
diubah-ubah (karena mudah terjadi dekubitus)
·
Pencegahan infeksi
nosokomial
·
Penimbangan BB tiap hari
b.
Secara khusus Resusitasi
dan terapi komplikasi
·
Koreksi dehidrasi dan
asidosis (pemberian cairan oralit atau infus)
·
Mencegah atau mengobati
defisiensi vitamin A
·
Terapi Ab bila ada
tanda infeksi atau sakit berat Dietetik
·
Prinsip TKTP dan
suplemen vitamin mineral
·
Bentuk makanan
disesuaikan secara individual (cair, lunak, biasa, makanan dengan porsi
sedikit-sedikit tapi sering)
·
Pemantauan masukan
makanan tiap hari (perubahan diet biasanya dilakukan setiap saat) Persiapan
pulang
·
Gejala klinik tidak
ada
·
Nafsu makan baik
·
Pembekalan terhadap
orang tua tentang gizi, perilaku hidup dan lingkungan yang sehat Komplikasi
·
Infeksi saluran pencernaan
·
Defisiensi vitamin
·
Depresi mental
Program
pemerintah –penanggulangan KEP Diprioritaskan pada daerah-daerah miskin dengan
sasaran utama
·
Ibu hamil
·
Bayi
·
Balita
·
Anak-anak sekolah
dasar Keterpaduan kegiatan
·
Penyuluhan gizi
·
Peningkatan pendapatan
12
·
Peningkatan pelayanan
kesehatan
·
Keluarga berencana
·
Peningkatan peran
serta masyarakat
Kegiatan
Peningkatan upaya pemantauan tumbuh kembang anak melalui keluarga, dasawisma
dan posyandu Penanganan secara khusus KEP berat • Rujukan pelayanan gizi di
posyandu • Peningkatan gerakan sadar pangan dan gizi • ASI eksklusif
2.2.5
OBESITAS
·
adalah penyakit gizi
yang disebabkan kelebihan kalori dan ditandai dengan akumulasi jaringan lemak
secara berlebihan diseluruh tubuh.
·
Merupakan keadaan
patologis dengan terdapatnya penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan
untuk fungsi tubuh
·
Gizi lebih (over
weight) dimana berat badan melebihi berat badan rata-rata, namun tidak selalu
identik dengan obesitas BB >>> tidak selalu obesitas
a.
Penyebab
·
Perilaku makan yang
berhubungan dengan faktor keluarga dan lingkungan
·
Aktifitas fisik yang
rendah
·
Gangguan psikologis
(bisa sebagai sebab atau akibat)
·
Laju pertumbuhan yang
sangat cepat
·
Genetik atau faktor
keturunan
·
Gangguan hormon
b.
Gejala
·
Terlihat sangat gemuk
·
Lebih tinggi dari anak
normal seumur
·
Dagu ganda
·
Buah dada seolah-olah
berkembang
·
Perut menggantung
·
Penis terlihat kecil
13
Terdapat 2 golongan obesitas
·
Regulatory obesity,
yaitu gangguan primer pada pusat pengatur masukan makanan
·
Obesitas metabolik,
yaitu kelainan metabolisme lemak dan karbohidrat
c.
Resiko/dampak obesitas
·
Gangguan respon
imunitas seluler
·
Penurunan aktivitas
bakterisida
d.
Penatalaksanaan
·
Menurunkan BB sangat
drastis dapat menghentikan pertumbuhannya. Pada obesitas sedang, adakalanya
penderita tidak memakan terlalu banyak, namun aktifitasnya kurang, sehingga
latihan fisik yang intensif menjadi pilihan utama
·
Pada obesitas berat
selain latihan fisik juga memerlukan terapi diet. Jumalh energi dikurangi, dan
tubuh mengambil kekurangan dari jaringan lemak tanpa mengurangi pertumbuhan,
dimana diet harus tetap mengandung zat gizi esensial.
·
Kurangi asupan energi,
akan tetapi vitamin dan nutrisi lain harus cukup, yaitu dengan mengubah
perilaku makan
·
Mengatasi gangguan psikologis
·
Meningkatkan aktivitas
fisik
·
Membatasi pemakaian
obat-obatan yang untuk mengurangi nafsu makan
·
Bila terdapat
komplikasi, yaitu sesak nafas atau sampai tidak dapat berjalan, rujuk ke rumah
sakit.
·
Konsultasi (psikologi
anak atau bagian endokrin)
14
BAB III
ISI
BAB III
ISI
3.1 Prinsip Gizi Seimbang pada Bayi
Makanan
terbaik bagi bayi adalah ASI. Namun, dengan bertambahnya umur bayi dan tumbuh
kembang, bayi memerlukan energi dan zat-zat gizi yang melebihi jumlah ASI. Bayi
harus mendapat makanan tambahan/ pendamping ASI. Banyaknya ASI yang dihasilkan
ibu tergantung dari status gizi ibu, makanan tambahan sewaktu hamil/ menyusui,
stress mental dan sebagainya. Dianjurkan untuk memberi 100-110 Kkal energi tiap
kgBB/ hari. Oleh karena itu, susu bayi mengandung kurang lebih 67 Kkal tiap 100
cc. Maka bayi diberikan 150-160 cc susu tiap kgBB. Tetapi tidak semua bayi
memerlukan jumlah energi tersebut.
3.2
Macam-Macam Makanan Bayi
Makanan bayi beraneka ragam macamnya
yaitu :
3.2.1.
ASI ( Air Susu Ibu)
Makanan yang paling
baik untuk bayi segera lahir adalah ASI. ASI mempunyai keunggulan baik ditinjau
segi gizi, daya kekebalan tubuh, psikologi, ekonomi dan sebagainya.
a.
Manfaat ASI
1)
Ibu
Aspek kesehatan ibu : isapan bayi akan merangsang terbentukny oksitosin oleh kelenjar hipofisis. Oksitosin akan membantu involusi uterus dan mencegah terjadi perdarahan post partum. Penundaan haid dan berkurangnya perdarahan post partum mengurangi prevalensi anemia zat besi. Selain itu, mengurangi angka kejadian karsinoma mammae.
Aspek kesehatan ibu : isapan bayi akan merangsang terbentukny oksitosin oleh kelenjar hipofisis. Oksitosin akan membantu involusi uterus dan mencegah terjadi perdarahan post partum. Penundaan haid dan berkurangnya perdarahan post partum mengurangi prevalensi anemia zat besi. Selain itu, mengurangi angka kejadian karsinoma mammae.
15
Aspek keluarga
berencana : merupakan KB alami, sehingga dapat menjarangkan kehamilan. Menurut
penelitian, rerata jarak kehamilan pada ibu yang menyusui adalah 24 bulan,
sedangkan yang tidak 11 bulan.
Aspek psikologis : ibu akan merasa bangga dan diperlukan oleh bayinya karena dapat menyusui.
Aspek psikologis : ibu akan merasa bangga dan diperlukan oleh bayinya karena dapat menyusui.
2)
Bayi
Nutrien (zat gizi) yang sesuai untuk bayi : mengandung lemak, karbohidrat, protein, garam dan mineral serta vitamin.
Nutrien (zat gizi) yang sesuai untuk bayi : mengandung lemak, karbohidrat, protein, garam dan mineral serta vitamin.
Mengandung zat
protektif : terdapat zat protektif berupa laktobasilus bifidus,laktoferin,
lisozim, komplemen C3 dan C4, faktor antistreptokokus, antibodi, imunitas
seluler dan tidak menimbulkan alergi.
Mempunyai efek psikologis yang menguntungkan : sewaktu menyusui kulit bayi akan menempel pada kulit ibu, sehingga akan memberikan manfaat untuk tumbuh kembang bayi kelak. Interaksi tersebut akan menimbulkan rasa aman dan kasih sayang.
Menyebabkan pertumbuhan yang baik : bayi yang mendapat ASI akan mengalami kenaikan berat badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan setelah periode perinatal baik dan mengurangi obesitas.
Mempunyai efek psikologis yang menguntungkan : sewaktu menyusui kulit bayi akan menempel pada kulit ibu, sehingga akan memberikan manfaat untuk tumbuh kembang bayi kelak. Interaksi tersebut akan menimbulkan rasa aman dan kasih sayang.
Menyebabkan pertumbuhan yang baik : bayi yang mendapat ASI akan mengalami kenaikan berat badan yang baik setelah lahir, pertumbuhan setelah periode perinatal baik dan mengurangi obesitas.
Mengurangi
kejadian karies dentis : insiden karies dentis pada bayi yang mendapat susu
formula lebih tinggi dibanding yang mendapat ASI, karena menyusui dengan botol
dan dot pada waktu tidur akan menyebabkan gigi lebih lama kontak dengan sisa
susu formula dan menyebabkan gigi menjadi asam sehingga merusak gigi.
Mengurangi
kejadian maloklusi : penyebab maloklusi rahang adalah kebiasaan lidah yang
mendorong ke depan akibat menyusu dengan botol dan dot.
3)
Keluarga
Aspek ekonomi : ASI tidak perlu dibeli dan karena ASI bayi jarang sakit sehingga dapat mengurangi biaya berobat.
Aspek ekonomi : ASI tidak perlu dibeli dan karena ASI bayi jarang sakit sehingga dapat mengurangi biaya berobat.
Aspek
psikologis : kelahiran jarang sehingga kebahagiaan keluarga bertambah dan
mendekatkan hubungan bayi dengan keluarga.
Aspek kemudahan
: menyusui sangat praktis sehingga dapat diberikan dimana saja dan kapan saja
serta tidak merepotkan orang lain.
16
4)
Negara
Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak.
Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak.
Adanya faktor
protektif dan nutrien yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik
serta angka kesakitan dan kematian menurun. Beberapa penelitian epidemiologis
menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, seperti
diare, otitis media, dan infeksi saluran pernafasan bagian bawah.
Mengurangi
subsidi untuk rumah sakit.
Dengan adanya
rawat gabung maka akan memperpendek lama rawat inap ibu dan bayi, mengurangi
komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta mengurangi biaya perawatan
anak sakit.
Mengurangi
devisa untuk membeli susu formula.
ASI dapat
dianggap sebagai kekayaan nasional. Jika semua ibu menyusui, diperkirakan akan
menghemat devisa sebesar Rp 8,6 milyar untuk membeli susu formula.
Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.
Meningkatkan kualitas generasi penerus bangsa.
Anak yang dapat
ASI dapat tumbuh kembang secara optimal, sehingga kualitas generasi penerus
bangsa akan terjamin.
b.
Komposisi ASI
Komposisi ASI
tidak sama dari waktu ke waktu, hal ini berdasarkan pada stadium laktasi.
Komposisi ASI dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
1)
Kolustrum : ASI yang
dihasilkan pada hari pertama sampai hari ketiga setelah bayi lahir.
2)
ASI transisi : ASI
yang dihasilkan mulai hari keempat sampai hari ke sepuluh.
3)
ASI mature : ASI yang
dihasilkan mulai hari kesepuluh sampai dengan seterusnya.
Tabel 1. Komposisi Kandungan ASI
Kandungan Kolustrum
Transisi ASI mature
Energi (kg kla) 57,0 63,0 65,0
Laktosa (gr/ 100 ml) 6,5 6,7 7,0
Lemak (gr/ 100 ml) 2,9 3,6 3,8
Protein (gr/ 100 ml) 1,195 0,965 1,324
Mineral (gr/ 100 ml) 0,3 0,3 0,2
Energi (kg kla) 57,0 63,0 65,0
Laktosa (gr/ 100 ml) 6,5 6,7 7,0
Lemak (gr/ 100 ml) 2,9 3,6 3,8
Protein (gr/ 100 ml) 1,195 0,965 1,324
Mineral (gr/ 100 ml) 0,3 0,3 0,2
17
Immunoglubin :
Ig A (mg/ 100ml)
Ig G (mg / 100 ml)
Ig M (mg/ 100 ml) 335,9
5,9
17,1 -119,6
2,9
2,9
Lisosin (mg/ 100 ml) 14,2-16,4 - 24,3-27,5
Laktoferin 420-520 - 250-270
Sumber : Pelatihan Manajemen Laktasi, RSCM, 1989.
Ig A (mg/ 100ml)
Ig G (mg / 100 ml)
Ig M (mg/ 100 ml) 335,9
5,9
17,1 -119,6
2,9
2,9
Lisosin (mg/ 100 ml) 14,2-16,4 - 24,3-27,5
Laktoferin 420-520 - 250-270
Sumber : Pelatihan Manajemen Laktasi, RSCM, 1989.
c.
Kecukupan ASI
Untuk
mengetahui kecukupan ASI dapat dilihat dari :
1)
Berat badan waktu
lahir telah tercapai sekurang-kurangnya akhir 2 minggu setelah lahir dan selama
itu tidak terjadi penurunan berat badan lebih 10 %.
2)
Kurve pertumbuhan
berat badan memuaskan, yaitu menunjukkan berat badan pada triwulan ke 1:
150-250 gr setiap minggu, triwulan ke 2 : 500-600 gr setiap bulan, triwulan ke
3 : 350-450 gr setiap bulan, triwulan ke 4 :250-350 gr setiap bulan atau berat
badan naik 2 kali lipat berat badan waktu lahir pada umur 4-5 bulan dan 3 kali
lipat pada umur satu tahun.
3)
Bayi lebih banyak
ngompol, sampai 6 kali atau lebih dalam sehari.
4)
Setiap kali menyusui,
bayi menyusu dengan rakus, kemudian melemah dan tertidur.
5)
Payudara ibu terasa
lunak setelah menyusui.
3.2.2.
MPASI ( Makanan Pendamping ASI)
Makanan pendamping ASI (MPASI)
diberikan setelah bayi berumur 6 bulan.
a.
Jenis MPASI
diantaranya:
v
Buah-buahan yang
dihaluskan/ dalam bentuk sari buah. Misalnya pisang Ambon, pepaya , jeruk,
tomat.
18
v Makanan lunak dan lembek. Misal bubur susu, nasi tim.
v Makanan bayi yang dikemas dalam kaleng/ karton/ sachet.
b.
Tujuan pemberian
makanan tambahan pendamping ASI adalah :
v
Melengkapi zat gizi
ASI yang sudah berkurang.
v
Mengembangkan
kemampuan bayi untuk menerima bermacam-macam makanan dengan berbagai rasa dan
bentuk.
v
Mengembangkan
kemampuan bayi untuk mengunyah dan menelan.
v
Mencoba adaptasi
terhadap makanan yang mengandung kadar energi tinggi.
c.
Hal-hal yang perlu
diperhatikan dalam pemberian MPASI :
v
Perhatikan kebersihan
alat makan.
v
Membuat makanan
secukupnya.
v
Berikan makanan dengan
sebaik-baiknya.
v
Buat variasi makanan.
v
Ajak makan bersama
anggota keluarga lain.
v
Jangan memberi makanan
dekat dengan waktu makan.
v
Makanan berlemak
menyebabkan rasa kenyang yang lama.
3.3
Cara Pengelolaan Makanan Bayi
Bayi setelah lahir sebaiknya
diberikan ASI, namun seiring dengan tumbuh kembang diperlukan makanan
pendamping ASI.
Tabel 2.
Definisi Pemberian Makanan Bayi
Pemberian ASI Eksklusif
(Exclusive breastfeeding) Bayi hanya
diberikan ASI tanpa makanan atau minuman lain termasuk air putih, kecuali obat,
vitamin dan mineral dan ASI yang diperas.
Pemberian ASI Predominan
(Predominant breastfeeding) Selain
mendapat ASI, bayi juga diberi sedikit air minum, atau minuman cair lain, misal
air teh.
19
Pemberian ASI Penuh
(Full breastfeeding) Bayi mendapat
salah satu ASI eksklusif atau ASI predominan.
Pemberian Susu Botol
(Bottle feeding) Cara pemberian makan
bayi dengan susu apa saja, termasuk juga ASI diperas dengan botol.
Pemberian ASI Parsial
(Artificial feeding) Sebagian menyusui
dan sebagian lagi susu buatan/ formula atau sereal atau makanan lain.
Pemberian Makanan Pendamping ASI
(MPASI) tepat waktu (Timely complementary feeding) Memberikan bayi makanan lain
disamping ASI ketika waktunya tepat yaitu mulai 6 bulan.
Tabel 3.
Rekomendasi Pemberian Makanan Bayi
Mulai menyusui Dalam waktu 30-60 menit
setelah melahirkan.
Menyusui eksklusif Umur 0-6 bulan
pertama.
Makanan pendamping ASI (MPASI) Mulai
diberikan pada umur antara 4-6 bulan (umur yang tepat bervariasi, atau bila
menunjukkan kesiapan neurologis dan neuromuskuler).
Berikan MPASI Pada semua bayi yang telah berumur lebih dari 6 bulan.
Teruskan pemberian ASI Sampai anak berumur 2 tahun atau lebih.
Berikan MPASI Pada semua bayi yang telah berumur lebih dari 6 bulan.
Teruskan pemberian ASI Sampai anak berumur 2 tahun atau lebih.
Tabel 4. Jadwal
Pemberian Makanan pada Bayi
Umur
Macam makanan Pemberian selama 24 jam
1-2 minggu
3 mg s/d 3 bulan
3 bulan
4-5 bulan
6 bulan
7-12 bulan ASI atau
1-2 minggu
3 mg s/d 3 bulan
3 bulan
4-5 bulan
6 bulan
7-12 bulan ASI atau
20
Formula
adaptasi
ASI atau
Formula adaptasi
ASI atau
Formula adaptasi
Jus buah
ASI atau
Formula adaptasi
Bubur susu
Jus buah
ASI atau
Formula adaptasi
Bubur susu
Jus buah
ASI atau
Formula adaptasi
Bubur susu
Nasi tim
Jus buah Sesuka bayi
6-7 kali 90 ml
Sesuka bayi
6 kali 100-150 ml
Sesuka bayi
5 kali 180 ml
1-2 kali 50-75 ml
Sesuka bayi
4 kali 180 ml
1 x 40-50 g bubuk
1 kali 50-100 ml
Sesuka bayi
3 kali 180-200 ml
ASI atau
Formula adaptasi
ASI atau
Formula adaptasi
Jus buah
ASI atau
Formula adaptasi
Bubur susu
Jus buah
ASI atau
Formula adaptasi
Bubur susu
Jus buah
ASI atau
Formula adaptasi
Bubur susu
Nasi tim
Jus buah Sesuka bayi
6-7 kali 90 ml
Sesuka bayi
6 kali 100-150 ml
Sesuka bayi
5 kali 180 ml
1-2 kali 50-75 ml
Sesuka bayi
4 kali 180 ml
1 x 40-50 g bubuk
1 kali 50-100 ml
Sesuka bayi
3 kali 180-200 ml
21
2
x 40-50 g bubuk
1
kali 50-100 ml
Sesuka bayi
2 kali 200-250 ml
2x 40- 50 g bubuk
1 x 40-50 g bubuk
1-2 kali 50-100 ml
Sumber: Ilmu Gizi Klinis Pada Anak, 2000
Sesuka bayi
2 kali 200-250 ml
2x 40- 50 g bubuk
1 x 40-50 g bubuk
1-2 kali 50-100 ml
Sumber: Ilmu Gizi Klinis Pada Anak, 2000
3.4
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian Makanan pada Bayi
Hal-hal yang perlu
diperhatikan supaya pengaturan makan untuk bayi dan anak dapat berhasil dengan
baik adalah sebagai berikut :
1.
Kerjasama ibu dan
anak.
Dimulai pada
saat kelahiran bayi dilanjutkan sampai dengan anak mampu makan sendiri. Makanan
hendaknya menyenangkan bagi anak dan ibu. Ibu yang tegang, cemas, mudah marah
merupakan suatu kecenderungan untuk menimbulkan kesulitan makan pada anak.
2.
Memulai pemberian
makan sedini mungkin.
Pemberian makan
sedini mungkin mempunyai tujuan menunjang proses metabolisme yang normal, untuk
pertumbuhan, menciptakan hubungan lekat ibu dan anak, mengurangi resiko
terjadinya hipoglikemia, hiperkalemi, hiperbilirubinemia dan azotemia.
3.
Mengatur sendiri.
Pada awal
kehidupannya, seharusnya bayi sendiri yang mengatur keperluan akan makanan.
Keuntungannya untuk mengatur dirinya sendiri akan kebutuhan zat gizi yang
diperlukan.
4.
Peran ayah dan anggota
keluarga lain.
5.
Menentukan jadwal
pemberian makanan bayi.
6.
Umur.
7.
Berat badan.
8.
Diagnosis dari
penyakit dan stadium (keadaan).
22
9.
Keadaan mulut sebagai
alat penerima makanan.
10. Kebiasaan makan (kesukaan, ketidaksukaan dan acceptability
dari jenis makanan dan toleransi daripada anak terhadap makanan yang
diberikan).
3.5
Pengaruh Status Gizi Seimbang Bagi Bayi
Tumbuh kembang anak
selain dipengaruhi oleh faktor keturunan juga dipengaruhi oleh faktor
lingkungan. Adapun faktor lingkungan yang berpengaruh adalah masukan makanan
(diet), sinar matahari, lingkungan yang bersih, latihan jasmani dan keadaan
kesehatan. Pemberian makanan yang berkualitas dan kuantitasnya baik menunjang
tumbuh kembang, sehingga bayi dapat tumbuh normal dan sehat/ terbebas dari
penyakit.
Makanan yang diberikan pada bayi dan anak akan digunakan untuk pertumbuhan badan, karena itu status gizi dan pertumbuhan dapat dipakai sebagai ukuran untuk memantau kecukupan gizi bayi dan anak. Kecukupan makanan dan ASI dapat dipantau dengan menggunakan KMS. Daerah diatas garis merah dibentuk oleh pita warna kuning, hijau muda, hijau tua, hijau muda dan kuning. Setiap pita mempunyai nilai 5 % perubahan baku. Diatas kurve 100 % adalah status gizi lebih. Diatas 80 % sampai dengan batas 100 % adalah status gizi normal, yang digambarkan oleh pita warna hijau muda sampai hijau tua.
Makanan yang diberikan pada bayi dan anak akan digunakan untuk pertumbuhan badan, karena itu status gizi dan pertumbuhan dapat dipakai sebagai ukuran untuk memantau kecukupan gizi bayi dan anak. Kecukupan makanan dan ASI dapat dipantau dengan menggunakan KMS. Daerah diatas garis merah dibentuk oleh pita warna kuning, hijau muda, hijau tua, hijau muda dan kuning. Setiap pita mempunyai nilai 5 % perubahan baku. Diatas kurve 100 % adalah status gizi lebih. Diatas 80 % sampai dengan batas 100 % adalah status gizi normal, yang digambarkan oleh pita warna hijau muda sampai hijau tua.
3.6
Dampak Kelebihan dan Kekurangan Gizi pada Bayi
Makanan yang ideal
harus mengandung cukup energi dan zat esensial sesuai dengan kebutuhan
sehari-hari. Pemberian makanan yang kelebihan akan energi mengakibatkan
obesitas, sedang kelebihan zat gizi esensial dalam jangka waktu lama akan
menimbulkan penimbunan zat gizi tersebut dan menjadi racun bagi tubuh. Misalnya
hipervitaminosis A, hipervitaminosis D dan hiperkalemi.
Sebaliknya kekurangan
energi dalam jangka waktu lama berakibat menghambat pertumbuhan dan mengurangi
cadangan energi dalam tubuh sehingga terjadi marasmus (gizi kurang/ buruk).
Kekurangan zat esensial mengakibatkan defisiensi zat gizi tersebut. Misalnya
xeroftalmia (kekurangan vit.A), Rakhitis (kekurangan vit.D).
23
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari pembahasan di
atas dapat disimpulkan bahwa Masalah gizi merupakan hal yang komplek di
Indonesia. Sampai saat ini ada lima masalah gizi utama di Indonesia, yaitu
Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Gizi Besi (AGB), Kurang Vitamin A (KVA),
Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) dan Obesitas. Energi dan protein
merupakan zat gizi makro, sedangkan zat besi, vitamin A dan Iodium merupakan
zat gizi mikro. Banyak faktor yang mempengaruhi asupan gizi masyarakat
tersebut.
Gizi juga dapat mempengaruhi pertumbuhan pada bayi untuk itu ada beberapa prinsip gizi seimbang pada bayi yaitu, makanan terbaik bagi bayi adalah ASI. Namun, dengan bertambahnya umur bayi dan tumbuh kembang, bayi memerlukan energi dan zat-zat gizi yang melebihi jumlah ASI. Bayi harus mendapat makanan tambahan/pendamping ASI. Selain itu ada Hal-hal yang perlu diperhatikan supaya pengaturan makan untuk bayi dan anak dapat berhasil dengan baik. Jika asupan gizi pada bayi tidak diperhatikan dengan baik juga dapat menyebabkan dampak kelebihan dan kekurangan gizi pada bayi.
Gizi juga dapat mempengaruhi pertumbuhan pada bayi untuk itu ada beberapa prinsip gizi seimbang pada bayi yaitu, makanan terbaik bagi bayi adalah ASI. Namun, dengan bertambahnya umur bayi dan tumbuh kembang, bayi memerlukan energi dan zat-zat gizi yang melebihi jumlah ASI. Bayi harus mendapat makanan tambahan/pendamping ASI. Selain itu ada Hal-hal yang perlu diperhatikan supaya pengaturan makan untuk bayi dan anak dapat berhasil dengan baik. Jika asupan gizi pada bayi tidak diperhatikan dengan baik juga dapat menyebabkan dampak kelebihan dan kekurangan gizi pada bayi.
25
Tidak ada komentar:
Posting Komentar