Mutiara Hadits Imam Ja‘far as

“Tiga manusia adalah sumber kebaikan:
manusia yang mengutamakan diam (tidak banyak bicara),
manusia yang tidak melakukan ancaman,
dan manusia yang banyak berzikir kepada Allah.”

Sabtu, 04 Februari 2012

"Menjemput Keindahan Dengan Keindahan"

oleh Andre Arifani pada 15 September 2011 jam 23:02

Senja itu,

Seorang sahabat yang tidak pernah letih
melantunkan kidung do'a-do’a harapannya
termenung di sudut kekhawatiran.

Gurat2 kegelisahan tanpak jelas menyelimutiwajah beningnya.

Saya tau, sudah lama dia belajar merajut surga impian dengan benang-benang munajat syahdunya.
Surga impian yang di rindukan oleh setiap hamba-hambaNya yang sholih.
Surga impian yang menjadi ratapan pilu dalam setiap ritual cinta seorang hamba yang sedang menyendiri.
Surga impian bagi para ikhwan sejati yang sedang bertekad menyempurnakan separuh agamanya.

Dan sekarang.
Bunga-bunga harapan yang senantiasa menghiasi angannya mulai menghimpit senyumnya.
Menciptakan kabut-kabut pekat dalam hatinya.
Membuai kekhawatiran dan kegelisahan yang sangat.
Memalingkan semua angannya dari sekenario indahnya tuhan.
Bahkan kado spesial yang sedang di persiapkan tuhan pun tidak pernah mendapatkan tempat di singgasana pikirannya.

Saya tau semua itu.
Saya dapat merasakannya.
Karena sebelumnya kondisi hati saya tidak jauh beda dengannya.

Tapi sekarang hati ini sudah mampu tersenyum.
Tersenyum dalam setiap sandiwara indah tuhan.
Alhamdulillah...

Saya katakan kepada sahabat saya.

"Akhi...
Impianmu adalah impianku dulu.
Impianmu adalah impian para hamba yang sholih.
Inpianmu adalah impian para ikhwan yang merindu akhwat yang sholihah.
inpianmu adalah impian perindu "baiti jannati".

Tapi...
Taukah akhi, Sekarang saya telah mampu menghapus semua mimpi indah itu.
Saya merasa malu dengan semua impian itu.
Hati ini tidak kuasa menuntut banyak tentang keindahan.
Saya sadar diri dan jiwa ini tidaklah seindah impian saya.
Tidakkah egois jika jiwa yang kotor menuntut jiwa bening yang bertabur keindahan?
Pantaskah jika seekor kumbang yang berlumuran kotoran membelai bunga melati yang putih bersih nan suci?
Bukankah sebuah kesombongan jika merasa berhak mndapatkan keindahan?
Tidakkah cukup naïf jika pungguk merindukan rembulan?
Sungguh, betapa malunya diri ini.

Saya membayangkan Allah tersenyum geli dan berkata...
“Engkau ingin pendamping yang baik dan sholihah sudahkah Engkau sendiri baik dan sholih?
Engkau merindukan pribadi yang suci dan indah sudahkah engkau sendiri suci dan indah?
Engkau merasa berhak mendapatkan semua keindahan itu sedangkan hakku engkau kemanakan?
Bukankah aku sebagai penciptamu yang lebih berhak menentukan urusanmu?
Engkau menuntut semua inpianmu kepadaku seakan engkau tidak percaya ayat 3 & 26 surat An-nur
bahwa pribadi yang indah berpasangan dengan yang indah pula.”

Akhi…
Sekarang saya hanya bisa berusaha keras memperindah diri dan jiwa ini.
Sembari berharap kepada Dzat yang maha pengasih
agar menjdikan saya seorang hamba yang sholih.
Hamba yang selalu takut kepada Nya. Hamba yang bertabur keindahan dan kasih sayang.
Hamba yang senantiasa belajar mengukir namaNya yang indah dalam qolbu.

Akhi…
Inilah ikhtiarku sekarang.
Membiarkan hati ini senantiasa tersenyum dalam setiap sandiwara indah tuhan.
Menyediakan ruang husnudzon yang selebar-lebarnya untuk kado spesial yang sedang di racik tuhan.
Inilah ikhtiarku sekarang.
Menjemput pendamping yang sholihah dengan mensholihkan diri.
Inilah ikhtiarku sekarang.
Menjemput keindahan dengan keindahan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar