Tanganku mulai bergerak menekan tombol keyboard ini ketika ku saksikan betapa tekunnya Bapak itu bekerja. Beliau tak hentinya mengeluarkan keringatnya dan tak berhenti mengadu-aduk semen bercampur pasir. Aku yang duduk di depan komputer ini menyaksikan aktivitasnya. Sembari mengeluarkan unek-unek di kepala untuk dituangkan menjadi sebuah karya.
Matahari bersinar, menyinari dunia. Membuka cakrawala, membangunkan setiap mata yang terlelap dari tidurnya. Matahari menyadarkan manusia, bahwa aktivitas keseharian akan segera dimulai. Aku yang sehari-hari bekerja sebagai operator di sebuah warnet di kampung keramat. Segera meninggalkan tempat peristirahatanku sementara untuk bekerja hari ini. Kurang lebih sejak dua minggu yang lalu, aku ditemani oleh seorang tukang bangunan, yang membangun toko baru di samping warnet ini.
Beliau adalah seorang bapak-bapak yang umurnya kurang bisa ku pastikan berapa. Bekerja di tengah terik mentari yang sangat panas. Mengayun pasir dan semen untuk membuat adonan sehingga menghasilkan tembok yang kokoh. Sehari, dua hari aku terus memperhatikannya. Tak sekalipun ku dengar keluhannya tentang pekerjaan nya. Yang bisa ku tangkap darinya hanyalah senyuman khas dan suaranya yang menyapaku. Ataupun menjawab sapaanku.
Dalam pikiran kanak-kanakku, bekerja ditengah terik mentari sangatlah berat. Bahkan akan menghasilkan tetesan keringat. Dengan nafas yang sedikit tersengal-sengal, beliau tetap bekerja. Demi menghidupi keluarganya.
Dari semua penglihatan ini, aku semakin diberi pengertian, aku diberi pelajaran. Betapa berharganya nilai uang. Betapa sulitnya mencari yang namanya rupiah. Di era sekarang yang serba mahal, serba naik, maka kebutuhan hiduppun semakin mencekik.
Aku ikut terhanyut dalam ingatan masa lampau,masa dimana ayah masih ada, masa dimana mak masih bekerja. Dengan mudahnya aku melontarkan sebuah kata,"Mak, minta duit."
Tidak tahu dari mana mak dan ayah mendapatkannya tetapi aku akan memintanya.
Mengingat itu semua membuatku semakin terpukul saja. Mengapa tak sedari dulu ku sadari bahwa mencari uang itu bukanlah hal yang mudah.
Maka sejak setahun yang lalu, sejak aku terjun ke dunia pekerjaan. Aku menjadi sadar. betapa sulitnya mencari uang, harus mengerahkan tenaga dan pikiran. Maka uang akan mengalir.
Hari ini, ku mendapat pelajaran baru. Ku mendapat pelajaran bahwa dengan keterbatasan yang kita miliki, janganlah pernah kita abaikan,, janganlah kita merasa minder ataupun malu. Mungkin, tukang bangunan pekerjaannya tidaklah mudah. Tidaklah santai, dan tidaklah nyaman. Karena berhadapan dengan hujan dan panas.
Aku paham, bahwa setiap pekerjaan pasti memiliki risiko. Tapi pekerjaan pun memiliki kemudahan. Misalkan, Para Guru yang menggunakan ilmunya untuk bekerja. Para Dokter yang juga menggunakan ilmu dan keterampilannya. Tapi bagi seorang tukang bangunan, tentu memiliki modal double ilmu dan tenaga. Dan lebih fokus pada tenaga.
Maka dari itu aku sangat bersyukur kepada ALLAH SWT, yang telah menganugerahkan ilmu ini kepadaku sehingga aku bisa sedikit dimudahkan dalam mendapat pekerjaan dan bekerja