KEPEMIMPINAN
1. Arti Kepemimpinan
Inti dari manajemen
adalah kepemimpinan. Manajer yang sangat cerdas dalam menyusun tata laksana
organisasi, tidak akan efisien dan efektif bila tidak disertai dengan kemampuan
kepemimpinan. Kepemimpinan adalah sebuah keharusan, agar kehidupan lebih
terarah. Memimpin adalah sebuah aksi mengajak sehingga memunculkan interaksi
dalam struktur sebagai bagian dari proses pemecahan masalah bersama.
Menurut Robins
kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi suatu kelompok
(masyarakat dalam suatu organisasi formal maupun tidak formal) kearah
terciptanya tujuan. Seseorang dapat menjalankan suatu kepemimpinan semata
karena kedudukannya dalam organisasi, tetapi tidak semua pemimpin itu adalah
pemimpin. Kreitner menyatakan bahwa mempimpim (leading) berbeda dengan mengelola (managing). Mengelola terfokus pada memberikan perintah dan
konsisten pada organisasi, termasuk merencanakan, mengorganisasi, staffing, budgeting, pengawasan/pengendalian, dan mengatur tujuan-tujuan untuk
yang berkualitas. Sedangkan kepemimpinan (leading)
adalah kemampuan untuk memengaruh, memotivasi, dan memberi perintah pada orang
lain secara langsung untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.
Para ahli berbeda
pandangan tentang kepemimpinandan manajer, seseorang dapat menjadi pemimpin
tanpa harus menjadi manajer, seorang dapat menjadi manajer tanpa harus
memimpin, karena memang banyak manajer yang tidak mempunyai bawahan, sehingga
tidak perlu memengaruhi atau memotivasi bawahannya. Benis dan Nanus dalam
bukunya Gary Yukl berpendapat bahwa manajer adalah orang yang melakukan segala
sesuatunya dengan baik, sedangkan pemimpin adalah orang yang melakukan segala
sesuatunya dengan benar.
Dari definisi
tersebut berarti kepemimpinan meliputi memotivasi pengikutnya dan menciptakan
kondisi yang menyenangkan dalam melaksanakan pekerjaan. Seorang pemimpin harus
dapat memengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu yang etis dan bermanfaat
bagi organisasi dan dirinya sendiri. Seseorang dapat memengaruhi orang lain
jika ia dapat menjadi teladan atau panutan, dapat memberi inspirasi agar
pengikutnya bersedia mengorbankan kepentingan sendiri demi tujuan yang lebih
tinggi. Kepemimpinan meliputi memotivasi pengikutnya dan menciptakan kondisi
yang menyenangkan dalam melaksanakan pekerjaan.
Yukl menyebutkan
bahwa pada dasarnya keberhasilan dari kepemimpinan tidak hanya tergantung pada
sifat-sifat atau karakteristik personal seseorang, tetapi juga tergantung pada
apa yang dilakukan seorang pemimpin. Dengan demikian kepemimpinan mulai dilihat
pada keterampilan kepemimpinan yang lebih merupakan pada pendekatan perilaku
yang berorientasi pada tugas dan berorientasi pada orang/hubungan. Dengan
demikian melalui komunikasi yang baik dan efektif akan memberikan fasilitas
kelancaran kerja dan merupakan sarana primer untuk merubah tingkah laku dengan
jalan memengaruhi dan meyakinkan para pengikut atau bawahan.
Dalam pandangan
Islam setiap individu adalah pemimpin apalagi seorang manajer. Ia diberi
kepercayaan dan amanah oleh organisasi atau perusahaan untuk melaksanakan
tugasnya dengan baik dan benar, dan harus mempertanggungjawabkannya pada
organisasi atau perusahaan dan tentunya pada Allah SWT. Hal ini tercermin dalam
hadis berikut:
Rasulullah
saw. bersabda : “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai
pertanggungjawaban dari yang dipimpinnya, seorang imam adalah pemimpin akan
dimintai pertanggungjawaban dari yang dipimpinnya, seorang laki-laki adalah
pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban dalam keluarganya, seorang perempuan
adalah pemimpin dalam suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban, pekerja
adalah pemimpin dalam harta tuannya, akan dimintai pertanggungjawaban dari yang
dipimpinnya. Setiap kamu adalah pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban dari
yang dipimpinnya.”
(Matan lain: Muslim 3408, Turmudzi, 1627, Abi
Daud 2539, Ahmad 4266, 4920, 5603, 5635, 5753)
Manajer yang sukses
dalam sebuah organisasi adalah manajer yang juga mampu memimpin. Seorang manajer
sekalipun tidak mempunyai bawahan tetap mempunyai kewajiban melaksanakan
tugasnya, tidak saja harus baik tetapi juga harus benar untuk mewujudkan
cita-cita organisasi atau perusahaan.
2. Asas Kepemimpinan
Terdapat beberapa azas bangunan kepemimpinan yaitu :
a. Keimanan dan Ketakwaan
Seorang pemimpin
haruslah mempunyai tingkat keimanan dan ketakwaan yang tinggi, sehingga
memahami bahwa kemampuan memimpin yang dia miliki adalah pemberian Tuhan. Dan
sebagai manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. Ia harus berusaha dan
menyandarkan usahanya pada Sang Pencipta dengan penuh tawakal.
Ibnu Majah:
Nabi
saw. bersabda: “ Andai kamu tawakal pada Allah dengan sepenuhnya, maka Allah
akan memberimu rezeki, sebagaimana Allah memberi rezeki pada burung yang keluar
di pagi hari dalam keadaan lapar, pulang di sore hari daam keadaan kenyang.”
(Matan lain: Turmudzi 2266, Ahmad
348)
b. Kekuasaan dan Wewenang Sesuai dengan yang
Diberikan oleh Tuhan
Selanjutnya
kepemimpinan erat kaitannya dengan kekuasaan, namun dalam Islam pemilik
kekuasaan tertinggi adalah Allah swt, manusia hanya mendapat amanah dari
pemegang kekuasaan tertinggi.
Bukhori:
Nabi
setiap selesai salat maktubah berzikir: “Tidak ada Tuhan selain Allah, yang
maha Esa tiada yang menyamai, bagi-Nya kekuasaan dan segala puji bagi-Nya, maha
kuasa atas segala sesuatu, Ya Allah, tiada yang bias mencegah apa yang engkau
berikan, tiada yang bisa memberi apa yang engkau tahan, dan kekayaan tidak akan
memberi manfaat.”
(Matan lain: Muslim 933, 934, 3237,
3238, 3239, Nasa’I 1324, 1325, Abu Daud 1287, 2675, Ahmad 1743, 17445, 17456,
17473, 17477, 17489, 17520, Darimi 1315, 2633)
Hadis tersebut
menunjukkan bahwa di atas pemimpin masih ada lagi yang maha memiliki kekuasaan
yaitu Allah swt, pemimpin hanya mendapat amanah yang harus
dipertanggungjawabkan kepada-Nya.
Dengan demikian,
setiap manajer mesti memiliki dua amanah yakni amanah dari organisasi/lembaga
dan amanah dari Tuhannya. Kesadaran spiritualitas ini memberi corak
kepemimpinan yang sangat berketuhanan dan manusiawi, dia akan membawa
organisasinya kearah visi ketuhanan dan kemanusiaan, bukan ke arah
keserakahan.
Adapun wewenang (authority), yaitu batasan gerak seorang
manajer sesuai dengan apa yang telah diberikan oleh pemberinya.
Bukhori:
Tidak
diutus seorang khalifah kecuali dua hal, yang pertama mengajak dan mendorong
pada kebaikan, dan mengajak serta mendorong pada kejelekan, sedang orang yang
mau menjaga kebaikan adalah orang yang ma’sum (dijaga oleh Allah).
(Matan lain: Nasa’i 4131, Ahmad
10914, 11407)
Dalam pandangan
Islam, wewenang yang diperoleh sejalan dengan ruang lingkup tingkatan tugas dan
tanggungjawab manajer, serta wewenang yang diberikan Tuhan sebagai
khalifah-Nya, yakni memiliki kewenangan atas bumi dan segala isinya, dengan
tugas memakmurkan bumi ini. Kesadaran spiritual adanya kewenangan yang terbatas
ini akan menumbuhkan rasa tanggungjawab pada sesama manusia dan juga pada
Tuhannya.
c. Musyawarah
Asas yang tak kalah pentingnya adalah Asas Musyawarah,
diterangkan dalam surah Ali Imran ayat 159. Melalui musyawarah akan terbangun
tradisi keterbukaan, persamaan dan persaudaraan.
3. Sifat Kepemimpinan
Masalah dasar
kepemimpinana adalah pengembangan skill yang
dapat memengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan. Seorang manajer yang ingin
memperbaiki kemampuannya untuk memengaruhi bawahan, perlu mengerti dirinya
sendiri, bawahan, situasi, dan teknik komunikasi. Dalam Islam, seorang pemimpin
hendaknya dapat memanage hatinya dengan baik, sehat, lahir dan batin.
Ahmad:
QS. Ali-Imran, 3: 159 (Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu
berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati
kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah
mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam
urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal
kepada-Nya).
Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya pada diri manusia terdapat
segumpal daging yang jika segumpal daging itu selamat dan sehat maka selamatlah
dan sehatlah seluruh jasadnya, jika ia sakit maka sakit dan rusaklah seluruh
jasadnya, ingatlah itu adalah hati.”
(Matan lain: Bukhori 50, Muslim 2996,
Turmudzi 1126, Nasa’I 4377, Abi Daud 2892, Darimi 2419)
Dari hadis itu
dapat dipahami bahwa manusia adalah makhluk Allah yang diberi hati selain akal
atau otak. Jika hatinya baik maka prilakunya akan baik, begitu sebaliknya jika
hatinya jelek maka prilakunya juga akan jelek. Hati berfungsi membedakan yang
baik dan yang buruk. Yang diinginkan dalam Islam adalah manusia yang mempunyai
hati yang dapat membimbing dan mengatur otaknya sehingga prilakunya baik dan
benar, bukan sebaliknya otak yang mengatur hatinya. Manusia juga diberi jasad
dan cahaya serta nafsu, jika hati dikuasai oleh nafsu maka ia seakan-akan
matanya buta, telinganya tuli dan hatinya tertutup, sehingga prilakunya pun
akan jauh dari ajaran agama.
Darimi:
Dari Kaab, ia berkata: “Tetaplah membaca Al-Qur’an karena dapat
memberi pemahaman, menjadi cahaya kebenaran dan sumber ilmu, menceritakan janji
maha pengasih dalam kitab-kitab, dalam Taurat Dia berfirman,”Wahai Muhammad,
aku turunkan padamu Taurat yang baru sebagai pembuka mata yang buta, telinga
yang tuli, hati yang tertutup.”
(Matan: Infirad)
Seorang pemimpin
harus peka terhadap perubahan lingkungan yang dihadapinya, seringkali pemimpin
menghadapi tugas merubah sikap bawahan, karena sikap yang sudah terbentuk
sebelumnya cenderung negatif. Hal ini tentu tidak mudah, oleh sebab itu seorang
pemimpin harus bisa menjadi inspirasi buat bawahannya, sebagaimana yang terjadi
pada diri Rasulullah.
Beberapa teori
kepemimpinan dapat ditemukan pada diri nabi Muhammad, misalnya empat fungsi
kepemimpinan yang dikembangkan oleh Stephen Covey. Konsep ini menekankan bahwa
seorang pemimpin harus memiliki empat fungsi kepemimpinan, yaitu sebagai
perintis (pathfinding), penyelaras (aligning), pemberdaya (empowering) dan panutan (modeling) bahkan Nabi seorang pemimpin
yang mampu memberi tauladan atau uswatun hasanah, yang ternyata hal ini adalah
sebagai model kepemimpinan yang tertinggi.
Terdapat beberapa
hadist yang berbicara tentang sifat dan sikap yang harus dipunyai seorang pemimpin
agar dapat menjadi uswatun hasanah bagi pengikutnya. Seorang pemimpin yang
efektif adalah yang mempunyai kompetensi dasar dan kompetensi fungsional. Adapun
kompetensi dasarnya adalah:
a. Berakhlak
Muslim:
Nawas
bin Siman al-Anshari berkata: “Saya
bertanya pada Rasul saw tentang yang terpuji dan tercela, terpuji adalah akhlak
yang baik, yang tercela adalah sesuatu yang meresahkan hati yang tidak ingin diketahui
orang lain.”
(Matan
lain: Turmudzi 2311, Ahmad 16973, Darimi 2670)
Darimi:
Rasulullah
saw. bersabda: “Paling sempurnanya orang
yang beriman adalah yang terbaik akhlaknya.”
(Matan
lain: Turmudzi 1082, Ahmad 7095, 9725, 10397)
b. Jujur dan Terpercaya
Bukhori:
Nabi
saw. bersabda: “Kejujuran mendatangkan
kebaikan, kebaikan menunjukkan ke surga, sesungguhnya seseorang berbuat jujur
hingga menjadi orang yang jujur. Kebohongan menunjukkan kejelekan, kejelekan
menunjukkan ke neraka, ada orang yang pasti berbohong sehingga ditulis oleh
Allah sebagai pembohong.”
(Matan
lain: Muslim 4718-4720, Turmudzi 1894, Abi Daud 4337, Ibnu Majah 45, Ahmad
3457, Malik 1570, Darimi 2559)
Ibnu
Majah:
Rasulullah
saw bersabda: “Pedagang yang terpercaya, jujur
dan muslim bersama syuhada di hari kiamat.”
(Matan:
Infirad)
Berdasarkan hadis tersebut maka peranan manajer atau pemimpin
sangat strategis dalam mengelola sumber daya manusia. Walaupun ada banyak
variabel yang memengaruhi perubahan sikap, tetapi semua variabel itu dapat
diuraikan dan dipandang dari dua faktor umum yaitu kepercayaan kepada factor
pengirim dan pesan itu sendiri. Jika karyawan tidak percaya kepada pemimpinnya,
mereka tidak akan menerima pesan atau perubahan sikap. Begitu pula jika pesan
tidak meyakinkan, maka aka nada tekanan untuk perubahan. Oleh sebab itu manajer
sebagai seorang pemimpin perlu membangun kepercayaan dan keyakinan pengikutnya.
c. Terbuka
Bukhori:
Jarir
berkata: “Saya baiat pada rasul membaca
syahadat, melakukan salat, mengeluarkan zakat, mendengarkan dan taat serta
saling menasehati (menghendaki yang terbaik) sesama muslim.”
(Matan
lain: Muslim 83-85, Turmudzi 1848, Nasa’i 4086, Ahmad 18363, Darimi 2428)
d. Mampu Mengendalikan Diri/Tidak Tamak
Rasulullah
saw. bersabda: “Makanan dua orang cukup
untuk tiga orang, makanan tiga orang cukup empat orang.
(Matan
lain: Bukhori 4973, Turmudzi 1743, Ahmad 7019, Malik 1453)
e. Mengembangkan Orang Lain
Bukhori:
Nabi
saw. bersabda: “Muslim yang sempurna
adalah orang yang menyelamatkan muslim dari bahaya lisan, tangannya, muhajir
adalah orang yang hijrah dari apa yang dilarang Allah.”
(Matan
lain: Muslim 57, Nasai 4950, Abi Daud 2122, Ahmad 6199, Darimi 2600)
Bukhori:
Nabi
saw. bersabda: “Tidak dikatakan beriman
sempurna seseorang di antara kamu sampai mencintai saudaranya akan sesuatu yang
dicintai untuk dirinya.”
(Matan
lain: Muslim 64-65, Turmudzi 2439, Nasa’I 4930-4931, Ibnu Majah 65, Ahmad
11564, Darimi 2623)
f. Pelayanan
Turmudzi:
Rasulullah
saw. bersabda: “Muslim yang sempurna
adalah orang yang menyelamatkan muslim dari bahaya lisan dan tangannya, mukmin
adalah yang memberi aman pada mukmin lainnya atas harta dan darahnya.”
(Matan
lain: Nasa’I 4909, Ahmad 8575)
Bukhori:
Rasulullah
saw. bersabda: “Allah merahmati seseorang
yang ramah ketika menjual, membeli, dan membayar hutang.”
(Matan
lain: Turmudzi 1241, Ibnu Majah 2194, Ahmad 14131, Darimi 1194)
g. Mempermudah
Turmudzi:
Rasulullah
saw. bersabda: “Barangsiapa yang menghilangkan
kesulitan dunia sesama mukmin maka Allah akan menghilangkan kesulitannya di
akhirat, barang siapa yang menutup aib seorang mukmin maka Allah akan menutupi
aibnya di dunia dan akhirat, Allah akan menolong hamba-Nya selama ia menolong
saudaranya.”
(Matan
lain:
4. Kepemimpinan Perempuan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar