Mutiara Hadits Imam Ja‘far as

“Tiga manusia adalah sumber kebaikan:
manusia yang mengutamakan diam (tidak banyak bicara),
manusia yang tidak melakukan ancaman,
dan manusia yang banyak berzikir kepada Allah.”

Sabtu, 04 Februari 2012

KEPEMIMPINAN
1.    Arti Kepemimpinan

Inti dari manajemen adalah kepemimpinan. Manajer yang sangat cerdas dalam menyusun tata laksana organisasi, tidak akan efisien dan efektif bila tidak disertai dengan kemampuan kepemimpinan. Kepemimpinan adalah sebuah keharusan, agar kehidupan lebih terarah. Memimpin adalah sebuah aksi mengajak sehingga memunculkan interaksi dalam struktur sebagai bagian dari proses pemecahan masalah bersama.
Menurut Robins kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi suatu kelompok (masyarakat dalam suatu organisasi formal maupun tidak formal) kearah terciptanya tujuan. Seseorang dapat menjalankan suatu kepemimpinan semata karena kedudukannya dalam organisasi, tetapi tidak semua pemimpin itu adalah pemimpin. Kreitner menyatakan bahwa mempimpim (leading) berbeda dengan mengelola (managing). Mengelola terfokus pada memberikan perintah dan konsisten pada organisasi, termasuk merencanakan, mengorganisasi, staffing, budgeting, pengawasan/pengendalian, dan mengatur tujuan-tujuan untuk yang berkualitas. Sedangkan kepemimpinan (leading) adalah kemampuan untuk memengaruh, memotivasi, dan memberi perintah pada orang lain secara langsung untuk mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan.
Para ahli berbeda pandangan tentang kepemimpinandan manajer, seseorang dapat menjadi pemimpin tanpa harus menjadi manajer, seorang dapat menjadi manajer tanpa harus memimpin, karena memang banyak manajer yang tidak mempunyai bawahan, sehingga tidak perlu memengaruhi atau memotivasi bawahannya. Benis dan Nanus dalam bukunya Gary Yukl berpendapat bahwa manajer adalah orang yang melakukan segala sesuatunya dengan baik, sedangkan pemimpin adalah orang yang melakukan segala sesuatunya dengan benar.
Dari definisi tersebut berarti kepemimpinan meliputi memotivasi pengikutnya dan menciptakan kondisi yang menyenangkan dalam melaksanakan pekerjaan. Seorang pemimpin harus dapat memengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu yang etis dan bermanfaat bagi organisasi dan dirinya sendiri. Seseorang dapat memengaruhi orang lain jika ia dapat menjadi teladan atau panutan, dapat memberi inspirasi agar pengikutnya bersedia mengorbankan kepentingan sendiri demi tujuan yang lebih tinggi. Kepemimpinan meliputi memotivasi pengikutnya dan menciptakan kondisi yang menyenangkan dalam melaksanakan pekerjaan.
Yukl menyebutkan bahwa pada dasarnya keberhasilan dari kepemimpinan tidak hanya tergantung pada sifat-sifat atau karakteristik personal seseorang, tetapi juga tergantung pada apa yang dilakukan seorang pemimpin. Dengan demikian kepemimpinan mulai dilihat pada keterampilan kepemimpinan yang lebih merupakan pada pendekatan perilaku yang berorientasi pada tugas dan berorientasi pada orang/hubungan. Dengan demikian melalui komunikasi yang baik dan efektif akan memberikan fasilitas kelancaran kerja dan merupakan sarana primer untuk merubah tingkah laku dengan jalan memengaruhi dan meyakinkan para pengikut atau bawahan.
Dalam pandangan Islam setiap individu adalah pemimpin apalagi seorang manajer. Ia diberi kepercayaan dan amanah oleh organisasi atau perusahaan untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan benar, dan harus mempertanggungjawabkannya pada organisasi atau perusahaan dan tentunya pada Allah SWT. Hal ini tercermin dalam hadis berikut:





















Rasulullah saw. bersabda : “Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban dari yang dipimpinnya, seorang imam adalah pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban dari yang dipimpinnya, seorang laki-laki adalah pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban dalam keluarganya, seorang perempuan adalah pemimpin dalam suaminya, dan akan dimintai pertanggungjawaban, pekerja adalah pemimpin dalam harta tuannya, akan dimintai pertanggungjawaban dari yang dipimpinnya. Setiap kamu adalah pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban dari yang dipimpinnya.”
 (Matan lain: Muslim 3408, Turmudzi, 1627, Abi Daud 2539, Ahmad 4266, 4920, 5603, 5635, 5753)

Manajer yang sukses dalam sebuah organisasi adalah manajer yang juga mampu memimpin. Seorang manajer sekalipun tidak mempunyai bawahan tetap mempunyai kewajiban melaksanakan tugasnya, tidak saja harus baik tetapi juga harus benar untuk mewujudkan cita-cita organisasi atau perusahaan.

2.    Asas Kepemimpinan
Terdapat beberapa azas bangunan kepemimpinan yaitu :
a.    Keimanan dan Ketakwaan

Seorang pemimpin haruslah mempunyai tingkat keimanan dan ketakwaan yang tinggi, sehingga memahami bahwa kemampuan memimpin yang dia miliki adalah pemberian Tuhan. Dan sebagai manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. Ia harus berusaha dan menyandarkan usahanya pada Sang Pencipta dengan penuh tawakal.

Ibnu Majah:




Nabi saw. bersabda: “ Andai kamu tawakal pada Allah dengan sepenuhnya, maka Allah akan memberimu rezeki, sebagaimana Allah memberi rezeki pada burung yang keluar di pagi hari dalam keadaan lapar, pulang di sore hari daam keadaan kenyang.”
(Matan lain: Turmudzi 2266, Ahmad 348)

b.   Kekuasaan dan Wewenang Sesuai dengan yang Diberikan oleh Tuhan

Selanjutnya kepemimpinan erat kaitannya dengan kekuasaan, namun dalam Islam pemilik kekuasaan tertinggi adalah Allah swt, manusia hanya mendapat amanah dari pemegang kekuasaan tertinggi.
Bukhori:











Nabi setiap selesai salat maktubah berzikir: “Tidak ada Tuhan selain Allah, yang maha Esa tiada yang menyamai, bagi-Nya kekuasaan dan segala puji bagi-Nya, maha kuasa atas segala sesuatu, Ya Allah, tiada yang bias mencegah apa yang engkau berikan, tiada yang bisa memberi apa yang engkau tahan, dan kekayaan tidak akan memberi manfaat.”
(Matan lain: Muslim 933, 934, 3237, 3238, 3239, Nasa’I 1324, 1325, Abu Daud 1287, 2675, Ahmad 1743, 17445, 17456, 17473, 17477, 17489, 17520, Darimi 1315, 2633)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa di atas pemimpin masih ada lagi yang maha memiliki kekuasaan yaitu Allah swt, pemimpin hanya mendapat amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada-Nya.
Dengan demikian, setiap manajer mesti memiliki dua amanah yakni amanah dari organisasi/lembaga dan amanah dari Tuhannya. Kesadaran spiritualitas ini memberi corak kepemimpinan yang sangat berketuhanan dan manusiawi, dia akan membawa organisasinya kearah visi ketuhanan dan kemanusiaan, bukan ke arah keserakahan. 
Adapun wewenang (authority), yaitu batasan gerak seorang manajer sesuai dengan apa yang telah diberikan oleh pemberinya.
Bukhori:







Tidak diutus seorang khalifah kecuali dua hal, yang pertama mengajak dan mendorong pada kebaikan, dan mengajak serta mendorong pada kejelekan, sedang orang yang mau menjaga kebaikan adalah orang yang ma’sum (dijaga oleh Allah).
(Matan lain: Nasa’i 4131, Ahmad 10914, 11407)

Dalam pandangan Islam, wewenang yang diperoleh sejalan dengan ruang lingkup tingkatan tugas dan tanggungjawab manajer, serta wewenang yang diberikan Tuhan sebagai khalifah-Nya, yakni memiliki kewenangan atas bumi dan segala isinya, dengan tugas memakmurkan bumi ini. Kesadaran spiritual adanya kewenangan yang terbatas ini akan menumbuhkan rasa tanggungjawab pada sesama manusia dan juga pada Tuhannya.

c.    Musyawarah
Asas yang tak kalah pentingnya adalah Asas Musyawarah, diterangkan dalam surah Ali Imran ayat 159. Melalui musyawarah akan terbangun tradisi keterbukaan, persamaan dan persaudaraan.


3.    Sifat Kepemimpinan

Masalah dasar kepemimpinana adalah pengembangan skill yang dapat memengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan. Seorang manajer yang ingin memperbaiki kemampuannya untuk memengaruhi bawahan, perlu mengerti dirinya sendiri, bawahan, situasi, dan teknik komunikasi. Dalam Islam, seorang pemimpin hendaknya dapat memanage hatinya dengan baik, sehat, lahir dan batin.
Ahmad:






QS. Ali-Imran, 3: 159 (Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya).







Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya pada diri manusia terdapat segumpal daging yang jika segumpal daging itu selamat dan sehat maka selamatlah dan sehatlah seluruh jasadnya, jika ia sakit maka sakit dan rusaklah seluruh jasadnya, ingatlah itu adalah hati.”
(Matan lain: Bukhori 50, Muslim 2996, Turmudzi 1126, Nasa’I 4377, Abi Daud 2892, Darimi 2419)

Dari hadis itu dapat dipahami bahwa manusia adalah makhluk Allah yang diberi hati selain akal atau otak. Jika hatinya baik maka prilakunya akan baik, begitu sebaliknya jika hatinya jelek maka prilakunya juga akan jelek. Hati berfungsi membedakan yang baik dan yang buruk. Yang diinginkan dalam Islam adalah manusia yang mempunyai hati yang dapat membimbing dan mengatur otaknya sehingga prilakunya baik dan benar, bukan sebaliknya otak yang mengatur hatinya. Manusia juga diberi jasad dan cahaya serta nafsu, jika hati dikuasai oleh nafsu maka ia seakan-akan matanya buta, telinganya tuli dan hatinya tertutup, sehingga prilakunya pun akan jauh dari ajaran agama.
Darimi:





Dari Kaab, ia berkata: “Tetaplah membaca Al-Qur’an karena dapat memberi pemahaman, menjadi cahaya kebenaran dan sumber ilmu, menceritakan janji maha pengasih dalam kitab-kitab, dalam Taurat Dia berfirman,”Wahai Muhammad, aku turunkan padamu Taurat yang baru sebagai pembuka mata yang buta, telinga yang tuli, hati yang tertutup.”
(Matan: Infirad)

Seorang pemimpin harus peka terhadap perubahan lingkungan yang dihadapinya, seringkali pemimpin menghadapi tugas merubah sikap bawahan, karena sikap yang sudah terbentuk sebelumnya cenderung negatif. Hal ini tentu tidak mudah, oleh sebab itu seorang pemimpin harus bisa menjadi inspirasi buat bawahannya, sebagaimana yang terjadi pada diri Rasulullah.
Beberapa teori kepemimpinan dapat ditemukan pada diri nabi Muhammad, misalnya empat fungsi kepemimpinan yang dikembangkan oleh Stephen Covey. Konsep ini menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki empat fungsi kepemimpinan, yaitu sebagai perintis (pathfinding), penyelaras (aligning), pemberdaya (empowering) dan panutan (modeling) bahkan Nabi seorang pemimpin yang mampu memberi tauladan atau uswatun hasanah, yang ternyata hal ini adalah sebagai model kepemimpinan yang tertinggi.
Terdapat beberapa hadist yang berbicara tentang sifat dan sikap yang harus dipunyai seorang pemimpin agar dapat menjadi uswatun hasanah bagi pengikutnya. Seorang pemimpin yang efektif adalah yang mempunyai kompetensi dasar dan kompetensi fungsional. Adapun kompetensi dasarnya adalah:

a.      Berakhlak
Muslim:






Nawas bin Siman al-Anshari berkata: “Saya bertanya pada Rasul saw tentang yang terpuji dan tercela, terpuji adalah akhlak yang baik, yang tercela adalah sesuatu yang meresahkan hati yang tidak ingin diketahui orang lain.”
(Matan lain: Turmudzi 2311, Ahmad 16973, Darimi 2670)

Darimi:






Rasulullah saw. bersabda: “Paling sempurnanya orang yang beriman adalah yang terbaik akhlaknya.”
(Matan lain: Turmudzi 1082, Ahmad 7095, 9725, 10397)

b.      Jujur dan Terpercaya
Bukhori:





Nabi saw. bersabda: “Kejujuran mendatangkan kebaikan, kebaikan menunjukkan ke surga, sesungguhnya seseorang berbuat jujur hingga menjadi orang yang jujur. Kebohongan menunjukkan kejelekan, kejelekan menunjukkan ke neraka, ada orang yang pasti berbohong sehingga ditulis oleh Allah sebagai pembohong.”
(Matan lain: Muslim 4718-4720, Turmudzi 1894, Abi Daud 4337, Ibnu Majah 45, Ahmad 3457, Malik 1570, Darimi 2559)

Ibnu Majah:







Rasulullah saw bersabda: “Pedagang yang terpercaya, jujur dan muslim bersama syuhada di hari kiamat.”
(Matan: Infirad)

Berdasarkan hadis tersebut maka peranan manajer atau pemimpin sangat strategis dalam mengelola sumber daya manusia. Walaupun ada banyak variabel yang memengaruhi perubahan sikap, tetapi semua variabel itu dapat diuraikan dan dipandang dari dua faktor umum yaitu kepercayaan kepada factor pengirim dan pesan itu sendiri. Jika karyawan tidak percaya kepada pemimpinnya, mereka tidak akan menerima pesan atau perubahan sikap. Begitu pula jika pesan tidak meyakinkan, maka aka nada tekanan untuk perubahan. Oleh sebab itu manajer sebagai seorang pemimpin perlu membangun kepercayaan dan keyakinan pengikutnya.

c.       Terbuka
Bukhori:




Jarir berkata: “Saya baiat pada rasul membaca syahadat, melakukan salat, mengeluarkan zakat, mendengarkan dan taat serta saling menasehati (menghendaki yang terbaik) sesama muslim.”
(Matan lain: Muslim 83-85, Turmudzi 1848, Nasa’i 4086, Ahmad 18363, Darimi 2428)

d.      Mampu Mengendalikan Diri/Tidak Tamak





Rasulullah saw. bersabda: “Makanan dua orang cukup untuk tiga orang, makanan tiga orang cukup empat orang.
(Matan lain: Bukhori 4973, Turmudzi 1743, Ahmad 7019, Malik 1453)

e.       Mengembangkan Orang Lain
Bukhori:










Nabi saw. bersabda: “Muslim yang sempurna adalah orang yang menyelamatkan muslim dari bahaya lisan, tangannya, muhajir adalah orang yang hijrah dari apa yang dilarang Allah.”
(Matan lain: Muslim 57, Nasai 4950, Abi Daud 2122, Ahmad 6199, Darimi 2600)


Bukhori:







Nabi saw. bersabda: “Tidak dikatakan beriman sempurna seseorang di antara kamu sampai mencintai saudaranya akan sesuatu yang dicintai untuk dirinya.”
(Matan lain: Muslim 64-65, Turmudzi 2439, Nasa’I 4930-4931, Ibnu Majah 65, Ahmad 11564, Darimi 2623)

f.       Pelayanan
Turmudzi:






Rasulullah saw. bersabda: “Muslim yang sempurna adalah orang yang menyelamatkan muslim dari bahaya lisan dan tangannya, mukmin adalah yang memberi aman pada mukmin lainnya atas harta dan darahnya.”
(Matan lain: Nasa’I 4909, Ahmad 8575)

Bukhori:







Rasulullah saw. bersabda: “Allah merahmati seseorang yang ramah ketika menjual, membeli, dan membayar hutang.”
(Matan lain: Turmudzi 1241, Ibnu Majah 2194, Ahmad 14131, Darimi 1194)

g.      Mempermudah
Turmudzi:







Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menghilangkan kesulitan dunia sesama mukmin maka Allah akan menghilangkan kesulitannya di akhirat, barang siapa yang menutup aib seorang mukmin maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat, Allah akan menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.”
(Matan lain:

4.    Kepemimpinan Perempuan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar