LAPORAN FARMASETIKA DASAR
Klasifikasi Bahan Kimia Berdasarkan
Sifat Dasar Bahaya

D
I
S
U
S
U
N
OLEH
Nama :
Elva Naviyana
Prodi :
Farmasi
POLTEKKES KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA
PANGKALPINANG
2012 / 2013
KATA
PENGANTAR
Puji dan syukur
penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya
kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan ini dengan lancar.
Penulisan laporan ini bertujuan untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen
pengampu mata kuliah Farmasetika Dasar.
Makalah ini
ditulis dari hasil penyusunan data-data sekunder yang penulis peroleh dari
media informasi, tak lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada pengajar mata
kuliah Farmasetika Dasar atas bimbingan
dan arahan dalam penulisan makalah ini. Juga kepada rekan-rekan mahasiswa yang
telah mendukung sehingga dapat diselesaikannya makalah ini.
Penulis
berharap, dengan membaca laporan ini dapat memberi manfaat bagi kita semua.
Laporan ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu penulis mengharapkan kritik
dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.
Pangkalpinang, 31 Oktober 2012
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Judul………………………………………………………………. i
Kata
Pengantar……………………………………………………………… ii
Daftar Isi……………………………………………………………………. iii
BAB I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang .............…………………………………………….. 1
B.
Tujuan Penulisan……………………………………………………. 1
C.
Manfaat Penulisan…………………………………………………... 1
BAB II.
PEMBAHASAN
A. Flammables........................................................................................... 2
B. Corrosive............................................................................................... 2
C. Irritans................................................................................................... 2
D. Toxic..................................................................................................... 3
E. Carcinogen............................................................................................ 4
F. Oxidizers............................................................................................... 4
G. Explosives............................................................................................. 5
H. Reaktif terhadap air............................................................................... 6
I. Radioaktif............................................................................................. 6
BAB III. PENUTUP
Saran………………………………………………………………….. 7
Daftar
Pustaka………………………………………………………………… 8
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah
Simbol bahaya digunakan untuk pelabelan bahan-bahan
berbahaya menurut Peraturan
tentang Bahan Berbahaya (Ordinance on Hazardeous Substances).
Peraturan tentang Bahan Berbahaya
(Ordinance on Hazardeous Substances)
adalah suatu aturan untuk melindungi/menjaga bahan-bahan berbahaya dan
terutama terdiri dari bidang keselamatan kerja. Arah
Peraturan tentang Bahan Berbahaya (Ordinance on Hazardeous Substances)
untuk klasifikasi, pengepakan dan pelabelan bahan kimia adalah valid untuk semua bidang, area
dan aplikasi, dan tentu saja , juga
untuk lingkungan, perlindungan konsumer
dan kesehatan manusia.
B. Tujuan Penulisan
Adapun
tujuan dari penulisan laporan
ini adalah untuk mengetahui
1. Klasifikasi bahan kimia berdasarkan sifat dasar bahaya
2. Simbol – simbol bahaya dari bahan kimia
C. Manfaat Penulisan
Penulisan
laporan ini diharapkan dapat bermanfaat
untuk ilmu pengetahuan serta sabagai bahan resensi.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Flammable (mudah terbakar)
Huruf
kode: tidak ada
Tidak ada simbol bahaya diperlukan untuk melabeli bahan
dan formulasi dengan notasi bahaya ‘flammable’. Bahan
dan formulasi likuid yang memiliki titik nyala antara +21oC dan +55oC
dikategorikan sebagai bahan mudah terbakar (flammable).
Frase-R untuk bahan mudah terbakar : R10.
Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya minyak
terpentin, CO, Toluen.
2.
Corrosive
(korosif)

Huruf kode: C
Bahan dan formulasi dengan notasi ‘corrosive’ adalah
merusak jaringan hidup. Jika suatu bahan merusak kesehatan dan kulit hewan uji
atau sifat ini dapat diprediksi karena karakteristik kimia bahan uji, seperti
asam (pH <2) dan basa (pH>11,5), ditandai sebagai bahan korosif.
Frase-R untuk
bahan korosif : R34 dan R35.
Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya asam mineral
seperti HCl dan H2SO4 maupun basa seperti larutan NaOH
(>2%).
3.
Irritant
(menyebabkan iritasi)

Huruf kode : Xi
Bahan dan formulasi dengan notasi ‘irritant’ adalah tidak
korosif tetapi dapat menyebabkan inflamasi jika kontak dengan kulit atau
selaput lendir.
Frase-R untuk
bahan irritant : R36, R37, R38 dan R41
Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya
isopropilamina, kalsium klorida dan asam dan basa encer.
D. Toxic (beracun)

Huruf kode: T
Bahan
dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya ‘toxic’ dapat menyebabkan
kerusakan kesehatan akut atau kronis dan
bahkan kematian pada konsentrasi sangat rendah jika masuk ke tubuh melalui
inhalasi, melalui mulut (ingestion), atau kontak dengan kulit.
Bahan dikategorikan beracun jika memenuhi kriteria
berikut:
LD50 oral (tikus) 25 – 200
mg/kg berat badan
LD50 dermal (tikus atau kelinci) 50 – 400 mg/kg
berat badan
LC50 pulmonary (tikus) untuk aerosol /debu 0,25 – 1 mg/L
LC50
pulmonary (tikus) untuk gas/uap 0,50 – 2 mg/L
Frase-R untuk
bahan beracun : R23, R24 dan R25
Bahan dan formulasi yang memiliki sifat
Karsinogenik (Frase-R :R45 dan R40)
Mutagenik (Frase-R :R47)
Toksik untuk
reproduksi (Frase-R :R46 dan R40) atau
Sifat-sifat merusak secara kronis yang lain (Frase-R :R48)
ditandai dengan simbol bahaya ‘toxic substances’ dan kode
huruf T.
Bahan karsinogenik dapat menyebabkan kanker atau
meningkatkan timbulnya kanker jika masuk ke tubuh melalui inhalasi, melalui
mulut dan kontak dengan kulit.
Contoh bahan dengan sifat tersebut misalnya solven-solven
seperti metanol (toksik) dan benzene (toksik, karsinogenik).
E. Oxidizing (pengoksidasi)

Huruf kode: O
Bahan-bahan
dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya „oxidizing“ biasanya tidak
mudah terbakar. Tetapi bila kontak
dengan bahan mudah terbakar atau bahan sangat mudah terbakar mereka dapat
meningkatkan resiko kebakaran secara signifikan. Dalam berbagai hal mereka
adalah bahan anorganik seperti garam (salt-like) dengan sifat pengoksidasi kuat
dan peroksida – peroksida organik.
Frase-R untuk bahan pengoksidasi : R7, R8 dan R9
Contoh
bahan tersebut adalah kalium klorat dan kalium permanganat juga asam nitrat
pekat, perklorat,
peroksida orgarilk
F.
Explosive
(bersifat mudah meledak)

Huruf kode: E
Bahan
dan formulasi yang ditandai dengan notasi bahaya „explosive“ dapat meledak
dengan pukulan / benturan, gesekan, pemanasan, api dan sumber nyala lain bahkan tanpa oksigen atmosferik. Ledakan
akan dipicu oleh suatu reaksi keras dari bahan. Energi tinggi
dilepaskan dengan propagasi gelombang
udara yang bergerak sangat cepat. Resiko ledakan dapat ditentukan dengan
metode yang diberikan dalam Law for Explosive Substances.
Di
laboratorium, campuran senyawa pengoksidasi kuat dengan bahan mudah terbakar atau
bahan pereduksi dapat meledak. Sebagai contoh, asam nitrat dapat menimbulkan
ledakan jika bereaksi dengan beberapa solven seperti aseton, dietil eter,
etanol, dll. Produksi atau bekerja dengan
bahan mudah meledak memerlukan pengetahuan dan pengalaman praktis maupun
keselamatan khusus. Apabila bekerja
dengan bahan-bahan tersebut kuantitas harus dijaga sekecil / sedikit mungkin
baik untuk penanganan maupun persediaan / cadangan.
Frase-R
untuk bahan mudah meledak : R1, R2 dan R3
Sebagai
contoh untuk bahan yang dijelaskan di atas adalah 2,4,6-trinitro toluena (TNT)
G. Explosive (bersifat mudah meledak)

Huruf kode: E
Bahan dan formulasi
yang ditandai dengan notasi bahaya „explosive“ dapat meledak dengan
pukulan/benturan, gesekan, pemanasan, api dan sumber nyala lain bahkan tanpa oksigen atmosferik. Ledakan akan
dipicu oleh suatu reaksi keras dari bahan. Energi tinggi dilepaskan dengan propagasi gelombang udara yang bergerak
sangat cepat. Resiko ledakan dapat ditentukan dengan metode yang diberikan
dalam Law for Explosive Substances
Di laboratorium, campuran senyawa pengoksidasi kuat
dengan bahan mudah terbakar atau bahan pereduksi dapat meledak . Sebagai
contoh, asam nitrat dapat menimbulkan
ledakan jika bereaksi dengan beberapa solven seperti aseton, dietil eter,
etanol, dll. Produksi atau bekerja dengan bahan mudah meledak memerlukan
pengetahuan dan pengalaman praktis
maupun keselamatan khusus. Apabila
bekerja dengan bahan-bahan tersebut kuantitas harus dijaga sekecil/sedikit
mungkin baik untuk penanganan maupun persediaan/cadangan.
Frase-R untuk bahan mudah meledak : R1, R2 dan R3
Sebagai contoh untuk bahan yang dijelaskan di atas adalah
2,4,6-trinitro toluena (TNT)
H. Reaktif terhadap air
Reaktif
terhadap air adalah zat yang sangat bereaksi terhadap air, menghasilkan api,
gas atau ledakan.
Bahan Reaktif terhadap air. Contohnya: Natrium,
Hidrida, Karbit, Nitrida.
I.
Radioaktif

Zat radioaktif pencemar lingkungan
yang biasa ditemukan adalah 90SR merupakan karsinogen tulang dan 131J.
Definisi pencemaran radioaktif
adalah suatu pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh debu radioaktif akibat
terjadinya ledakan reaktor-reaktor atom serta bom atom. Yang paling berbahaya
dari pencemaran radioaktif seperti nuklir adalah radiasi sinar alpha, beta dan
gamma yang sangat membahayakan makhluk hidup di sekitarnya. Selain itu
partikel-partikel neutron yang dihasilkan juga berbahaya.
Apabila ada makhluk hidup yang
terkena radiasi atom nuklir yang berbahaya biasanya akan terjadi mutasi gen
karena terjadi perubahan struktur zat serta pola reaksi kimia yang merusak
sel-sel tubuh makhluk hidup baik tumbuh-tumbuhan maupun hewan atau binatang.
BAB III
KESIMPULAN
Saran
Laporan ini diharapkan dapat berguna
sebagai pembelajaran tentang klasifikasi bahan kimia. Saran yang baik sangat
penulis harapkan demi pembuatan laporan yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar