Di penghujung Januari 2012, aku mengenalnya melalui chatting via facebook.
Pagi itu, setelah membersihkan warnet tempat ku bekerja, seperti biasa aku aktifkan facebook.
Aku memutar musik via media player.
Sembari menyedot debu dengan vacuum cleaner, terdengar bunyi pertanda ada yang menyapaku via chatting.
Aku tak langsung menengok layar komputer.
Ku sudahi pekerjaanku.
Ku lihat seorang pria, dengan nama Amirullah menyapaku.
Ku balas chatting-nya agar tak sombong.
Chatting berlanjut hingga curhat kesana kemari.
Akhirnya dia meminta nomor hengpong-ku dan entah mengapa dengan mudahnya ku berikan.
Malamnya, dirumahku dia sms memintaku untuk menelpon.
Sopan, kesan pertma untuknya.
Dia tak langsung menelpon tetapi minta izin dulu.
Aku ingin menguji sabarnya dia. Ku tolak niatnya untuk mengobrol via telpon.
Ku beri izin besok setelah subuh, dia boleh menelponku.
Esoknya,subuh,, setelah selesai shalat dia menelponku. Pembicaraan
singkat kami terhenti karena aku harus ziarah ke makam ayahanda
tercinta.
Jumat yang indah.
Hubungan berlanjut hingga seminggu setelah itu kami resmi jadian.
LDR (Long Distance Relationship) hingga beberapa bulan. Dia berada jauh di seberang pulau sana.
Dia mengabdi di Pesantren di Madura.
Aku belum pernah sedikitpun melihat wajahnya. Hanya foto saja yang bisa ku lihat.
Komunikasi berjalan lancar, sms dan telpon berlangsung.
Aku sangat senang ketika dibangunkan setiap azan subuh.
Walau mataku masih mengantuk, dengan lembutnya dia mengajakku shalat sedangkan dia sudah pulang dari masjid pondoknya.
Dia tak akan mematikan hengpong hingga mendengar gemericik wudhu-ku.
Shalat adalah hal yang sangat sakral untuknya.
Terkadang di telpon, dia lantunkan ayat suci al-quran.
Dia ucapkan hadist nabi beserta maknanya.
Aku senang mendengarnya.
Hingga pada bulan ramadhan dia kembali ke bangka.
Dan dia telah selesai mengabdi.
Pertemuan pertamaku dengannya di konter.
Dia baik dan sopan. Dia lucu, dia ramah. Dia tidak pelit, dia suka makan.
Setiap makan nasi padang bersamanya aku selalu mensisihkan setengah
bagianku untuknya. Aku tak sanggup menghabiskan makanan sebanyak itu.
Daripada mubazir..
Kini februari 2013,, genap setahun kebersamaan kami. Dia selalu ada untukku.
Dia memahami keegoisanku hingga menyulap egois itu menjadi hilang dalam diriku.
Dia mengerti aku, tak pernah memaksa kehendak dan membebaskanku melakukan apapun.
Dia sangat perhatian, dikala ku sakit dan sehat. Memperhatikan pola makan ku hingga banyak yang berkomentar aku terlihat gemuk.
Dia percaya selalu padaku.
Pengertian, kepercayaan, dan perhatian adalah pondasi kami.
Untukmu, yang sampai saat ini menghiasi hari-hariku, catatan ini ku persembahkan hanya untukmu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar